Salah satu agenda wajib bila berkunjung ke Singapura bagi saya adalah menyambangi toko buku. Tidak bisa dimungkiri, toko-toko buku Singapura menawarkan lebih banyak ragam buku berbahasa Inggris daripada toko-toko buku di Indonesia, bahkan ketika Kinokuniya Plaza Senayan sedang jaya-jayanya. Kinokuniya Ngee Ann City (atau cabang-cabang lain Kinokuniya) jelas selalu ada dalam daftar kunjung, walaupun ukurannya telah berkurang setelah renovasi.
Nasib toko buku di Singapura, seperti juga di negara-negara lain, sepertinya sempat suram ketika sejumlah toko tutup susul-menyusul. Dulu, misalnya, ada Borders di Wheelock Place, dan Page One di Vivo City. Akan tetapi, pukulan paling besar barangkali adalah tutupnya toko buku independen BooksActually, yang tumbang seiring mencuatnya skandal sang pemilik, Kenny Leck. Kenny terlibat hubungan asmara dengan sejumlah pegawai perempuannya, tetapi memenuhi hak-hak mereka sebagai pekerja saja tidak. Sungguh disayangkan, padahal dulu BooksActually adalah salah satu daya tarik besar Singapura bagi saya.
Pesawat kami untuk balik ke Singapura dijadwalkan meninggalkan Narita di pagi hari, sementara kami baru kembali ke Tokyo dari Akita sehari sebelumnya. Alias, kami hanya punya sisa sekitar setengah hari di wilayah Tokyo. Rasanya kalau kami menginap di Tokyo, lalu besoknya pagi-pagi sekali berangkat ke Narita, agak repot, ya. Oleh karena itu, kami memutuskan untuk menginap di dekat bandara saja. Akan tetapi, setengah hari yang tersisa itu mau diapakan? Kan sayang.
Pikiran pertama kami adalah bertandang ke Narita, kota yang paling dekat dengan bandara internasional bernama sama. Kota ini memang banyak dilewatkan penumpang pesawat terbang yang tujuan utamanya memang ke bandara, tetapi sebenarnya merupakan tujuan wisata yang cukup menarik juga. Setidak-tidaknya begitu kata orang-orang lain yang pernah berkunjung ke kota Narita. Kami tidak sempat menguji keabsahan pernyataan itu karena kami menjatuhkan pilihan kepada Sawara, kota kecil yang terkenal karena masih punya banyak bangunan lama di sepanjang kanal.
Baiklah, setelah saya berceloteh tentang Kuching, mari kita lanjutkan dengan Kota Kinabalu, ibu kota negara bagian Sabah.
Sebenarnya, saya berkunjung ke Kota Kinabalu (jamak disingkat KK) sekalian ke Brunei Darussalam, karena bepergian antara kedua kota itu hanya membutuhkan waktu setengah jam dengan maskapai seperti Royal Brunei. (Lawatan ke Brunei itu telah saya tuliskan dalam duabagian.) Oleh karena itu, kami menginap di dua tempat berbeda, sebelum dan sesudah berkunjung ke Brunei. Sekalian mencoba-coba tempat menginap yang tersedia dalam banyak ragam, rupa, dan harga di Kota Kinabalu. Teman saya juga sempat mencuci pakaian di binatu otomat, yang cukup mudah ditemukan di Kota Kinabalu sehingga cukup meringankan kebutuhan para pelancong.
Dibukanya jalur-jalur penerbangan langsung oleh AirAsia ke sejumlah kota di Borneo utara seperti Kuching dan Kota Kinabalu membuat saya sangat senang, karena memang sejak lama saya ingin bertandang ke daerah-daerah tersebut. Namun, biasanya mencari teman yang mau diajak ke sana agak susah. Pertanyaan yang kerap saya terima dari orang yang saya ajak—atau setidaknya saya ajak mengobrol soal bepergian ke daerah-daerah seperti itu—adalah, “Memangnya ada apa di sana? Tempatnya sepi gitu.”
Hmmm, yah, kalau saya memang suka bertandang ke kota-kota yang tidak terlalu ramai. Akan tetapi, salah besar bila berpikir bahwa kota-kota tersebut tidak punya tempat-tempat menarik untuk dikunjungi. Catatan saya dari dua kota Malaysia yang saya kunjungi berikut ini mungkin bisa membuat Anda terpikat untuk mempertimbangkan berlibur barang dua-tiga hari (atau mungkin lebih!) ke sana. Tadinya saya hanya ingin menulis sedikit saja… tapi ternyata, sewaktu saya mulai mencoba, tahu-tahu tulisannya sudah panjang saja. Redaksi ‘sedikit catatan saya’ di paragraf ini pun saya ganti menjadi ‘catatan saya’ saja.
Patung kucing kenamaan di Kuching yang seolah menjadi tempat wajib turis berfoto.
Beberapa waktu lalu, saya iseng-iseng mencoba menghitung ‘JP Level’ saya di situs ini. Skor berbeda-beda diberikan untuk pengalaman berbeda yang telah kita lalui di setiap prefektur Jepang: pernah tinggal di sana (warna merah, skor 5), pernah menginap di sana (warna cokelat, skor 4), pernah berkunjung ke sana (warna kuning, skor 3), pernah turun dari kereta atau mungkin kendaraan lain di sana (warna hijau, skor 2), pernah lewat saja (warna biru, skor 1), dan tidak pernah ke prefektur itu sama sekali (warna putih, skor 0).
Perjalanan kami di Karawang berlanjut lagi, ke tempat tujuan ketiga, yaitu Monumen Pembantaian Rawagede. Seperti juga kedua tempat yang sebelumnya kami datangi, monumen ini tidak terletak di dekat jalan besar, melainkan di tepi jalan kecil. Ada tempat parkir, meski tidak terlalu besar. Dari depan, yang terlihat adalah sebuah bangunan yang menyerupai piramida bertangga, dengan sejumlah relief terpajang di dinding-dinding sebelah bawahnya. Sekilas tempat itu tidak terlalu istimewa, tetapi sesungguhnya momen sejarah yang diabadikannya sungguh kelam dan menyedihkan.
Pada hari Sabtu (8 Februari) minggu lalu, saya mengikuti jalan-jalan kelompok berbagi biaya yang untuk pertama kali diselenggarakan oleh Ruang Dialog Sejarah. Tujuan kami adalah Karawang, kota di Jawa Barat yang selama ini hanya saya kenal namanya dari puisi Chairil Anwar. Yang membuat saya sangat berminat mengikuti jalan-jalan ini adalah ternyata ada sejumlah candi di Karawang—hal yang tidak saya ketahui sebelumnya.
Kesuksesan film The First Slam Dunk (2022) yang disutradarai sendiri oleh sang mangaka, Inoue Takehiko, membangkitkan ‘macan tidur’, yaitu basis penggemar lama Slam Dunk, sekaligus menggaet banyak penggemar baru. Film tersebut berfokus pada pertandingan antara Shohoku (SMA para tokoh utama) melawan juara bertahan STM Sannoh dari Akita, bagian manga yang belum pernah diadaptasi menjadi anime sebelumnya. Berkat film itu, popularitas Sannoh meroket, dan banyak penggemar pun menjadi tertarik kepada STM Noshiro yang menjadi model Sannoh.
Kaki-kaki kami kembali menjejak daratan, bukan lagi bilah-bilah papan yang bergoyang-goyang. Dalam perjalanan kembali ke hotel untuk check out, kami mampir di Piccolo Café untuk menyegarkan diri. Menurut sebuah video pendek tentang Brunei yang saya tonton dalam penerbangan ke Bandar Seri Begawan, menghabiskan waktu luang – misalnya sehabis kerja – bercengkerama di kedai kopi adalah salah satu hal favorit penduduk Brunei. Makanya dari kemarin saya penasaran ingin mencicipi kopi di kota ini, hanya saja belum kesampaian.
Salah satu sudut Bandar Seri Begawan di pagi akhir pekan.
Waterfront Bandar Seri Begawan menghadap ke sungai seperti di Kuching, bukan ke laut seperti di Kota Kinabalu. Dari sungai besar tersebut, memancar sejumlah anak sungai dan kanal, yang bisa dimasuki perahu-perahu bermesin yang berperan sebagai ‘tambang’, yang menyeberangkan orang-orang dari satu sisi sungai ke sisi lain. Dengan tambang bermesin inilah kami hari ini akan menyeberang ke Kampung Ayer – sebuah kampung yang dibangun di atas sungai dan masih bertahan hingga sekarang.
You must be logged in to post a comment.