“Kamu mau ga temenan kalau misal nanti kita putus?” ucapku memecah hening malam, kamu yang diam dari tadi memandang langit-langit kamar. Sesekali suara kendaraan menyelinap masuk ke dalam kamar, lalu kembali hening setelahnya.

“Ga mau.” balasmu singkat.

“Kenapa ga mau?”

“Nanti aku ga bisa move on.”

Masa depan, terlalu jauh dari dekap kuasaku. Ada apa esok hari, bagaimana kehidupan selanjutnya, aku sama sekali tidak memiliki kehendak untuk merancang dan mengatur itu semua. Aku hanya menjalani hidup sebaik yang aku mampu, begitu pula kamu. Kita adalah sama-sama takut akan kehilangan, menjalani hari kembali sendiri, banyak hal akan berubah, cara memandang, cara merasa, atau cara berpikir. 

Bersamamu aku sudah sangat lengkap dan cukup, denganmu rasanya semua usahaku terasa lebih mudah, sebab sungguh hangat dekapanmu untukku pulang, sungguh teduh kedua matamu untuk aku menceritakan peliknya hari, tidak ada ragu sedikitpun akan semua usaha yang aku lakukan, denganmu rasanya semua sudah dalam genggamanku.

Tapi, apa kamu tahu tentang esok hari? Bisa jadi kita tidak lagi bersama, bisa jadi kisah kita harus usai begitu saja, lalu asing kembali menjelma kita berdua, berjalan berpisah sembari mendekap masing-masing rahasia, aku takut. Aku takut kehilanganmu, jauh dari itu, aku juga takut kehilangan diriku sendiri yang sudah kutanam jauh dalam dirimu.

Apa yang harus aku lakukan bilamana kita tidak lagi bisa bersama? Apa daya dan upaya yang harus aku perbuat? Banyak tanda tanya di dalam kepalaku yang tidak memiliki jawaban. Aku hanya takut.

Aku tidak siap memulai kembali, melangkah sendiri, bercerita hanya pada gelap malam, menangis dalam dekap selimut di kamarku, berteriak di bawah arus air, berharap semua lara segera usai. Kamu, kita, sama-sama tahu betapa sulit melewati kesendirian. Apa kamu mau?

Apa kamu mau untuk tidak melewati hari sendiri? Tetaplah denganku, walau jalan seringkali sulit. Walau angan acapkali goyah. Lewatilah semua waktu yang penuh tanda tanya itu denganku.

–(wh.)
#wordhunterpost

Aku tidak melupakanmu, tidak akan pernah.

Aku hanya mulai pulih dan terbiasa. Mengingatmu tidak lagi meruntuhkan duniaku dan merindukanmu tidak lagi menyesakkan dadaku.

Perlahan aku berhenti mengekor pada masa lalu, aku melepaskanmu membawa sebagian diriku, bersama semua rasa, cerita, dan rahasia.

Perlahan aku mengangkat kaki yang menahan pintumu, kulepaskan seluruhnya dengan damai. Pergilah sejauh mungkin.

(wh.)

#wordhunterpost

Semua terasa jauh lebih berat setelah kamu pergi.

Aku tidak lagi mematikan lampu untuk tidur sebab gelapnya tidak lagi menenangkanku, bayangmu selalu muncul dan menyesakanku, malam-malam yang biasanya kita habiskan berdua, sekarang harus kuhadang pilu itu sendirian.

Aku lelah berkata baik-baik saja padahal aku tidak. Aku kebingungan dalam menjalani hari, momen yang biasanya dapst kita bagi berdua, kegelisahan yang biasanya mampu aku utarakan, kini harus kutelan sendirian.

Aku rindu di khawatirkan olehmu, aku rindu ditanyakan tentang banyak hal olehmu, aku rindu sekedar menerima panggilan telepon darimu, aku rindu diriku yang bersamamu, aku tidak lebih baik-baik saja sekarang.

(wh.)

#wordhunterpost

Hujan lebih sering turun sekarang, sesekali aku ke luar rumah dan berdiri di pinggir teras, mendah telapak tangan, membiarkan hujan membasahinya. Kuhirup banyak-banyak aroma hujan yang membasahi tanah, sekelibat bayangmu muncul di kepalaku, entah apa yang membawamu hadir.

Kehilanganmu tidak pernah mudah, melepaskanmu tidak pernah mudah, merekalanmu berkali-kali berhasil menghancurkan diriku, aku hanya belum terbiasa, hadirmu sempat melengkapi, kini aku harus sendiri mengahadapi diri.

Kamu bisa berhenti berlari menjauh, aku sudah tidak lagi mengejarmu, aku sudah berhenti tepat setelah hatimu kamu buka untuk seseorang lainnya, aku berhenti mengejarmu bukan karena rasaku sudah hilang, namun bukan aku lagi yang kamu butuh.

Aku ingin menjadi hujan, jatuh tanpa rasa sakit.

(wh.)

#wordhunterpost

Sejak mendapatiku menangis, Bunda lebih sering menatapku. Ketika berkali-kali aku menghela napas dan mengusap wajah, ketika aku berdiam lama di kamar mandi, ketika aku lebih sering mengunci pintu kamar, ketika aku sangat jarang menghabiskan makananku, aku juga tahu bahwa setiap malam Bunda sering melihatku ke kamar.

Bunda pasti bertanya-tanya ada apa, pasti khawatir akan banyak hal yang menimpaku, ada banyak tanda tanya di kepalanya, namun sungguh aku tidak mampu membagi pelik yang sedang kutanggung, sebab aku tahu betul hidupnya pun tidak semudah itu, aku tidak ingin menambah beban untuknya.

Aku selalu tersenyum dan tertawa, menghabiskan banyak waktu di kamarnya atau di depan telvisi sambil bekerja, aku ingin menghilangkan rasa khawatirnya, bercerita tentang buku yang sedang kubaca, bercerita tentang teman-temanku, entahlah obrolan yang kuharap dapat mengalihkan.

Namun Bunda tetaplah Bunda, dia tahu anaknya sedang tidak baik-baik saja.

(wh.)

#wordhunterpost

Aku tidak baik-baik saja.

Jauh sebelum bertemu denganmu aku juga tidak baik-baik saja, aku menghancurkan diriku sendiri untuk seseorang, aku menghabiskan banyak waktu untuk seseorang yang tidak peduli denganku, aku memungut keping demi keping diriku sendirian, sepanjang malam kuhabiskan untuk memaki diri sendiri, bertanya-tanya betapa tidak berharganya jiwaku, berulang kali aku jatuh dan mematahkan diri untuk seseorang yang bahkan tidak lagi mencintaiku dan menggangapku ada. Sulit sekali rasanya saat itu, hampa, kosong, entah bagaimana aku harus menjelaskan kondisiku.

Aku tidak baik-baik saja.

Hadirmu membuatku percaya kembali bahwa aku layak untuk dicintai sepenuh hati dan bahwa jiwaku jauh lebih berharga. Hadirmu membuatku kembali hidup dan percaya akan hari esok yang tidak pernah pasti. Hadirmu adalah titik balik dari banyak kisah di hidupku, bahwa ada seseorang yang mampu bertahan dan berusaha melengkapiku di tengah kekurangannya, Tuhan sungguh baik mengantarkanmu, namun kali ini Tuhan berkata bahwa tugasmu selesai, dan aku sungguh bersyukur akan pertemuan kita.

Aku tidak baik-baik saja.

Namun aku sungguh bahagia pernah menjadi bagian dari ceritamu, melihatmu tumbuh, dan melalui banyak gemuruh. Aku bahagia sempat memilikimu, berbagai banyak cita dan rahasia. Aku bahagia pernah menjadi rumah untukmu pulang.

Aku tidak baik-baik saja.

Kelak jika Tuhan melalui semesta mengizinkan kita berjumpa, kamu akan melihatku dalam satu sosok yang pernah kamu dampingi dengan sangat bijaksana, kamu akan melihatku berproses dengan sangat luar biasa, semua karenamu, cinta, dan juga sabar yang kamu tanamkan padaku.

Mencintaimu dan itu selalu.

Untukmu, Z

(wh.)

#wordhunterpost

Mungkin aku berbohong jika aku berkata bahwa aku bahagia melihatmu bahagia.

Bagaimana bisa aku bahagia melihatmu melakukan hal yang dulu kita lakukan, sekarang kamu lakukan dengan orang lain. Tapi tidak ada hal yang dapat aku lakukan lagi, sebab kepergianmu memang karena kegaduhanku yang tidak mampu lagi kamu redam. Bukan salahmu yang memilih pergi, salahku yang tidak paham bagaimana menjagamu tetap di sini.

Ternyata benar, aku sudah lama kehilanganmu, aku tahu setiap kali kamu berpura-pura, matamu tidak mampu menyembunyikannya, maaf sebab untukku kamu harus membohongi diri.

(wh.)
#wordhunterpost

Aku membuka satu demi satu folder di laptopku, menyingkirkan yang tidak penting, dan menyimpan yang penting. Kamarku terasa sepi, hanya menyisakanku, dan suara dari kipas angin. Aku menghela napas berkali-kali, ada yang menyesakan dadaku.

Mataku fokus pada layar monitor, jemariku memegang mouse memberikan bunyi “klik” kecil. Salah satu folder membuatku terdiam, tersenyum getir, dan aku putuskan membuka folder tersebut.

Ada ribuan foto dan video di dalamnya, terdiri dari fotoku dengan sosok yang sebelumnya menemaniku, fotonya sendiri yang kerap dia kirim tiba-tiba kepadaku, tangkapan layar jika kami sedang video call, tangkapan layar beberapa pesan, beberapa video randomnya, video kami berdua, dan ada beberapa pesan suara darinya.

Aku melihat satu demi satu, sesekali aku tersenyum, dadaku kembali sesak, pandanganku kabur sebab air mata sudah tertumpuk di sana, aku menahan napas agar tidak menjatuhkan apa pun.

Aku mentap wajahnya pada setiap potret, suara tawanya menggema ruang telingaku, dan kepalaku memutar memori lama.

Tawa yang dulu terdengar sebab pembicaran kami yang konyol, bagaimana tutur katanya yang tegas setiap aku merasa lelah, suaranya ketika terbangun di malam hari sebab mimpi buruk, bagaimana dia membuang muka setiap aku membuatnya kesal, atau suaranya yang terdengar lembut ketika membangunkanku setiap pagi.

Aku masih ingat bagaimana jemarimu menyentuhku, bagaimana tubuhmu mendekapku, bagaimana kamu menatapku, bagaimana kamu bahagia ketika tertarik dengan suatu hal, aku suka jika hanya diam dan menatapmu memilih jenis pulpen atau jenis kertas yang menurutku sama saja, aku senang mendengar ceritamu yang itu-itu saja, aku senang ketika bersamamu, dan ternyata banyak kata yang tidak pernah aku ucap, banyak hal yang tidak aku lakukan untuk membuatmu yakin.

Aku menutup folder tersebut, menyimpan mereka sebagai pengingat bahwa kamu pernah melengkapi hidupku dengan sangat baik, bahwa sabarmu pernah membuatku berani menghadapi banyak hal, bahwa cintamu yang mebuatku yakin akan hari esok.

(wh.)
#wordhunterpost

Kalimat demi kalimat yang terlontar kini hanya untuk menjagaku tetap waras, kubiarkan seluruh rasa dan logika bekerja sama untuk melegakan jiwa.

Kata demi kata yang terurai kini hanya untuk meyakinkanku bahwa hari esok akan jauh lebih baik, meyakinkanku sekali lagi bahwa ini hanya sebuah cara Tuhan menyelamatkanku.

Titik di akhir kalimat bukan saja berarti akhir, namun juga untuk melanjutkan lembaran baru. Koma tidak hanya memberi jeda, namun juga memberi ruang untuk melanjutkan banyak hal.

Dan kini aku ada di satu spasi, memberi arti, dan memaknai ruang.

Sendiri seharusnya tidak membuatku mati, sepi seharusnya tidak membunuhku, kenangan seharusnya mampu menjadi teman serta pengingat, aku pernah menjadi pemeran utama ceritamu, walau berakhir tragis, kamu tetap menjadi salah satu peran dalam ceritaku selanjutnya, pengingat langkah, agar tidak terjatuh dan koyak seperti hari ini.

(wh.)
#wordhunterpost

Kehancuranku tidak akan pernah menjadi penyesalanmu, kehancuranku hanyalah satu dari masalah yang pernah kamu upayakan tuntas namun berakhir kandas.

Kehancuranku tidak akan pernah membuatmu hancur pula, sebab kini ada yang membuatmu utuh dan tangguh, sedangkan aku harus berjalan bersama bayanganku sendiri.

Kehancuranku tidak akan pernah melemahkanmu, hanya menghilangkan semua rasamu padaku, hanya menyingkirkanku dari hidupmu, dan aku tidak ada.

Kehancuranku tidak akan pernah benar-benar menghancurkan, aku masih berusaha sadar dan bangkit dengan kedua kakiku, aku masih berusaha bernapas dengan sisa harapan yang masih ada, aku masih berusaha sembuh dengan sisa tekad yang tertinggal, aku akan kembali hidup, bahagia, dan baik-baik saja sama sepertimu.

Terima kasih, hadirmu mampu mengahncurkanku dan membuatku percaya bahwa aku mampu berdiri tanpamu.

(wh.)
#wordhunterpost