Semuanya
Karena Allah
Manusia
adalah Astrolah Allah
Maulana
Jalaludin Rumi
Bermula dari rasa keingintahuan yang tinggi,
rasa ingin menenangkan diri dari hiruk pikuk dunia, lalu kemudian
ketertarikanku akan ilmu filsafat, sufi dan tasawuf semakin meningkat. Perlahan
aku mencoba mencari referensi tentang apa saja yang bisa aku pelajari. Salah
satu Ustadz yang juga merupakan seorang dosen di UINSUKA Jogjakarta menjadi
idolaku. Seringkali aku dengarkan kajiannya lewat spotify dan youtube membuat
aku menandai siapa siapa saja tokoh yang kiranya bisa aku pelajari, mulai dari
biografi juga tentang bukunya. Seringkali beliau menyebutkan Jalaludin Rumi
pada setiap moment Ngaji Filsafatnya, juga sebenarnya ada tokoh lain seperti
Imam Ghozali, dan Para filsuf berbagai negara.
Sebelum ini, aku pernah mencoba mempelajari
Filsafat Yunani, sangat menarik sekali. Konon katanya ketika belajar filsafat
bisa saja gila jika tidak diimbangi iman. Menurutku sih, tidak se mengerikan
itu, coba saja mulai dari hal yang ringan, kemudian cari teman yang bisa diajak
sharing juga guru yang bisa membimbing. Setahuku dalam mempelajari sesuatu itu
ada kelas atau tahapannya, atau juga levelnya. Akal manusia itu terbatas, kalo
toh pas sudah merasa mentok dan ndak kuat ya jangan dipaksa, begitu sih
pandanganku. Sewajarnya saja, jangan menggila.
Masuk ke dalam buku Fihi Ma Fihi
ini, menjadi buku Jalaludin Rumi yang aku coba baca, pelajari dan pahami. Mulai
dari bab pertama dan kedua sudah membuatku terkesima. Aku berencana
menuliskannya kembali dalam artikelku ini, sembari aku memberi tanggapan. Oke akan
aku mulai dari beberapa rangkuman yang aku tulis.
Kata-kata adalah bayangan dan
cabang dari hakikat; jika bayangan bisa menarik sebuah benda, maka tentu
hakikat akan jauh lebih bisa. Kata-kata adalah media. Yang sesungguhnya membawa
manusia kepada orang lain adalah unsur harmoni (keserasian) nya, dan bukan
kata-kata.
Pemikiran tentang sesuatulah yang
membawa orang tersebut datang kepada sesuatu yang dipikirkannya. Memikirkan
taman akan membawa seseorang menuju taman, dan memikirkan toko akan mengantarkan
orang menuju toko. Tetapi di antara pemikiran-pemkiran ini terdapat sesuatu
yang palsu dan sulit dibedakan. Bukankah kamu pernah mendatangi suatu tempat,
tetapi kemudian kamu menyesal karena telah mendatanginya dan berkata: “Aku
pikir ini tempatnya, tapi ternyata bukan?”
Pemikiran ini laksana sebuah kemah
yang di dalamnya terdapat seseorang yang sedang bersembunyi. Ketika pemikiran
menghilang dari pandangan dan hanya hakikat tanpa selubung pemikiran yang
tampak, maka akan terjadi kebingungan yang luar biasa. Jika hal itu terjadi,
tidak akan da lagi penyesalan.
Ketika mucul hakikat yang
menarikmu, maka tidak akan ada hal lain lagi selain hakikat itu. Hakikat itu
sendirilah yang menarikmu. Sesungguhnya yang menarik hanya ada satu, tetapi
muncul dalam bentuk yang bermacam-macam. Tidakkah kamu sadar bahwa manusia
dikuasai oleh ratusan keinginan yang berbeda-beda?
Ya, betul sekali, kita terkadang
dipusingkan dan dibuat stres oleh pikiran kita sendiri. Bagaimana tidak? Kita
seringkali memikirkan sesuatu terlalu jauh, terlalu rumit padahal faktanya
tidak seburuk dan semengerikan apa yang kita pikirkan. Oleh karena itu aku
tertarik pada buku-buku tentang self improvement, juga buku-buku tentang
menyederhakanan pola pikir dan kehidupan. Memikirkan apa yang dipikirkan, “kenapa
ya aku sampe mikir kaya gini? Kok bisa sih?” sekelumit kalimat tanya pada otak
yang seringkali menyeruak ke permukaan, hingga penasaran apakah orang lain juga
sama sepertiku? Apakah ada yang bisa memahamiku? Ah sudahlah. Nanti kita
sambung lagi di cerita selanjutnya.
Peluk Cium,
Lailatul Maqhfiroh