Senin, 26 November 2018

BERILMU DALAM PLS


Harapan saya setelah lulus dari S1 Pendidikan Luar Sekolah adalah yang pasti menjadi tenaga pendidik yang professional dan langsung mendapatkan pekerjaan sesuai dengan bidang ke PLS an yang saya miliki. Karena saya ingin langsung memberikan ilmu-ilmu yang telah saya peroleh saat mempelajari tentang PLS di Universitas Siliwangi (UNSIL) Tasikmalaya. Saya ingin memberikan pengetahuan kepada masyarakat dan mengajarkan hal-hal yang belum diketahui masyarakat sebelumnya. Ingin membangun masyarakat-masyarakat yang lebih kreatif,inovatif dalam hal apapun, misal dalam penggunaan kembali bekas sampah-sampah plastik dan tanaman kangkung untuk dijadikan brownis kangkung, yang bisa dijadikan masyarakat sebagai bahan jual dan untuk menambah penghasilan masyarakat, selain itu saya juga ingin membuka lapangan pelatihan untuk masyarakat-masyarakat yang belum mempunyai pekerjaan dan langsung menyediakan lapangan pekerjaannya. Disana saya membuka pelatihan untuk wanita misalnya menjahait, menyulam, membuat kerajinan-kerajinan tangan,dan lain-lain kalau untuk laki-laki saya menyediakan pelatihan seperti komputer, wirausaha dan strategi pemasaran produk dan lain-lain. Jadi setelah melakukan pelatihan masyarakat-masyarakat mempunyai keahlian masing-masing untuk mencari pekerjaan dan bisa juga langsung bekerja dilapangan pekerjaan yang telah ada. Disamping itu saya juga ingin mengadakan pembelajaran untuk orang dewasa sampai orang tua yang belum bisa baca tulis yang biasanya masih banyak terdapat di desa-desa terpencil yang diadakan sukarela untuk membangun masyarakat lebih maju dan cerdas.






Bukan hanya aktif di masyarakat tapi saya ingin aktif mengajar di sekolah-sekolah formal dan non formal yang bisa membantu mereka menjadi anak-anak yang cerdas dan mampu bersaing dengan anak-anak luar negeri, anak-anak yang kreatif dalam menciptakan hal-hal yang baru, karena mereka semua adalah harapan-harapan Negara Indonesia untuk membangun bangsa ini menjadi lebih baik lagi, selain itu saya ingin juga mengajar anak-anak jalanan yang masih kekurangan pendidikan dan saya ingin mengubah pola pikir mereka yang tidak mau sekolah. Karena pendidikan wajib diterima oleh kalangan siapapun, sekalipun mereka hanyalah seorang anak jalanan. Bangsa yang maju adalah bangsa yang mampu membuat masyarakatnya cerdas dan pendidikan terjamin. Saya juga berkeinginan melanjutkan studi saya kejenjang S2/pasca sarjana prodi Pendidikan Luar Sekolah di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dan setelah saya selesai melakukan studi pasca sarjana saya berencana membuka prodi Pendidikan Luar Sekolah disalah satu Univeristas Galuh di kabupaten Ciamis, karena di Ciamis masih belum ada untuk jurusan Pendidikan Luar Sekolah dan mengenalkan jurusan Pendidikan Luar Sekolah ke dalam Universitas Swasta tersebut. Membuat jurusan Pendidikan Luar Sekolah menjadi jurusan unggulan dari setiap jurusan-jurusan lainnya. Saya ingin mengubah pandangan orang-orang terhadap jurusan Pendidikan Luar Sekolah bahwa Pendidikan Luar Sekolah adalah jurusan yang pantas untuk dijadikan sebagai jurusan harapan mahasiswa-mahasiswa.

PLS UNSIL DEKLARASI PERGANTIAN NAMA PLS MENJADI PENDIDIKAN NON FORMAL


Mengutip dari website resmi Imadiklus.id hasil dari tulisan adik-adik PLS UNSIL yaitu :
Himpunan Mahasiswa Pendidikan Luar Sekolah FKIP Unsil menggelar Seminar Nasional Gebyar Pendidikan Luar Sekolah. Bukan hanya seminar nasional, Gebyar PLS juga diramaikan dengan acara Talkshow sekaligus deklarasi pergantian nama dari PLS menjadi Pendidikan Non Formal. Acara berlangsung pada pukul 08.00 WIB di Gedung Mandala Universitas Siliwangi.
Membangun kemitraan keluarga dengan pendidikan informal, non formal dan formal dalam rangka penguatan pendidikan karakter menjadi tema Gebyar PLS tahun ini. Tema ini diambil dari perundingan panitia dengan pihak Dosen. “Ada beberapa tema yang diajukan panitia dan dosen memilih tema yang ini, karena kita lingkupnya pendidikan non formal. Sekarang lagi boomingnya pendidikan karakter sebagai penguatnya,” ujar Mutiara Santi selaku Ketua Pelaksana.
Tujuan seminar nasional ini adalah untuk menjadi bekal tenaga pendidik untuk terjun ke masyarakat serta bekal untuk kaum hawa sebagai calon Ibu. Mulanya, panitia khawatir akan kekurangan peserta, namun diluar ekspetasi jumlah peserta mencapai 426.
H. Syaefuddin, Drs., M.Si. Ketua Jurusan PLS Unsil, mengucapkan selamat datang untuk seluruh peserta seminar. Dalam sambutannya juga mengabarkan bahwa PLS Unsil akan melakukan reakreditasi dengan harapan berubah akreditasi menjadi A. Dengan adanya acara ini, memberikan motivasi dan pertimbangan dalam penilaian reakreditasi. Bukan hanya itu, dalam acara Semnas Gebyar PLS juga dideklerasikan bahwa PLS Unsil akan berganti nama menjadi Pendidikan Non Formal.
Prof. Dr. H. Mustofa Kamil, M.Pd. Rektor UNIS Tangerang sedang memberi materi di acara Seminar Nasional Gebyar PLS di Gedung Mandala Unsil pada hari Rabu, 01 November 2017. (Sumber Foto: Ikhdan)
Prof. Dr. H. Mustofa Kamil, M.Pd. Rektor UNIS Tangerang, sekaligus Assesor BAN PT. Peneliti JICA serta Guru Besar UPI menjadi pemateri pertama. Lalu Melly Kiong Penulis Buku Parenting serta terpilih menjadi salah satu wanita inspirasi menjadi pemateri kedua. Untuk Talkshow, Kidung Paramadita Runner Up 3 Miss Indonesia 2016 dan sedang menempuh pendidikan pasca sarjana PLS UNNES sebagai pengisi Talkshow.
Ditemui usai acara, Kidung mengaku senang dapat menjadi salah satu pemateri. “Acaranya sangat bagus, luar biasa. Apalagi menitikberatkan pada pendidikan karakter dan pendidikan luar sekolah,” paparnya. Kidung juga berharap acara ini terus berkesinambungan di Universitas Siliwangi dan diperbanyak dibidang lain agar kita mampu bersinergi dengan pemerintah untuk membangun bangsa yang lebih bermartabat dan lebih maju lagi.
Pina Permata Delima, salah satu peserta dari PLS Unsil 2017 memberi tanggapan. “Pokoknya acaranya seru banget. Kita belajar cara mendidik anak yang paling baik itu gimana. Apalagi aku cewek, calon Ibu juga,” ujarnya. Mengakhiri wawancara Pina berharap dengan adanya acara ini akreditasi PLS Unsil menjadi naik sekaligus membawa nama baik untuk pergantian nama menjadi Pendidikan Non Formal. (FajKus, Ikhdan&Vanka)


RAKERNAS IMADIKLUS HARI PERTAMA DI JAKARTA


Jakarta, 28 Maret 2018. diawali dengan makrab malam hari jam 20.00 WIB, kami yang berbeda beda universitas dengan jurusan yang sama yaitu Pendidikan Luar Sekolah berkumpul di ruang aula D1 tepatnya di Asrama Pondok Haji Jakarta Timur.
Perkenalan yang menambah kesan hangat dimalam itu, membuat interaksi dari teman teman lainya mengekspresikan cerita pengalaman dari masing masing universitas tentang ke-IMADIKLUSAN yang mereka bawa dari daerahnya. ada yang dari Tasikmalaya, Bogor, Banten, Gorontalo, Bengkulu, Riau, Yogjakarta, Malang, Surabaya dan masih banyak lagi teman teman dari IMADIKLUS yang datang di acara rakernas kali ini untuk berpartisipasi.
jam menunjukan pukul 23.00 WIB makrab diakhiri. kami bersiap untuk melanjutkan istirahat agar besok kembali bugar, karena besok akan ada acara seminar di UNJ dengan materi yang kami nantikan. para panitia meminta kami untuk bangun lebih pagi lagi, tepatnya pada pukul 05.00 WIB agar tidak terkena macet saat berangkat ke UNJ.
hari H pun tiba, kami siap untuk berangkat seminar di UNJ. pengalaman baru dari kami adalah naik bus metro mini, panitia menyediakan 3 bus tersebut. jam menunjukan pukul 07.00 WIB on the way. Raut wajah teman teman yang riang karena antusias untuk segera sampai beberapa menit berganti kantuk, karena kami sedang terjebak macet paginya Jakarta. seru sih… tapi ya gitu, kita lelah di bus hehehe. perjalanan memakan waktu kurang lebih satu setengah jam dengan jarak yang lumayan cukup jauh juga. tapi kami menikmatinya.
Setelah sampai di UNJ kami berfoto ria di monumen yang bertulisakan Universitas Negeri Jakarta. bertukar foto, selfie membuat tambah akrab. Acara seminarpun dimulai, dengan bertemakan   Yang berdedikasi untuk memberdayakan masyarakat melalui  inovasi baru dengan memanfaatkan lingkungan yang ada, seperti bahan bahan herbal yang dibudidayakan menjadi kosmetik dan jamu, untuk menggugah semangat mahasiswa dalam menumbuhkembangkan berwirausaha juga.
pemateri berikutnya diisi oleh Ibu Nadiah Abidin dan Bpk Andi Suhandi, Founder Cahaya Anak Negeri yang menginspirasi dengan memberdayakan anak jalanan untuk tetap menempuh pendidikan yang beliau dirikan. kemudian ada pemateri muda dari Mas Edy Fajar Prasetyo CHC, Green Social Preneur yang sudah memberikan kontibusi pada masyarakat guna mengelola sampah dengan cara mendaur ulang untuk dijadikan bahan kerajian yang memiliki nilai jual tinggi. Mas Edy juga menerapkkan untuk menabung sampah, jadi sampah yang sudah terkumpul akan di olah jadi bahan kerajinan yang bagus untuk diperjual belikan melalui tangan masyarakat. Tak kalah menarik, dari seminar ini kami kedatangan pemateri dari finalis Top 6 Puteri Indonesia 2018 mbak Kidung Paramadita dari UNJ yang memberikan dukungan untuk kita agar tetap mengembangkan karakter yang ada pada diri sendiri.
jam menunjukan pukul 05.00 WIB, acara seminar pun berakhir diakhiri dengan berfoto foto dengan gaya kami dengan pemateri dan panitia. kembalinya kami ke Asrama cukup melelahkan tapi juga menyenagkan karena kami merasakan macetnya jakarta pada sore itu dan lebih banyak candaan di dalam metro mini.

TIDAK ADA JURUSAN YANG TIDAK BAIK, TERGANTUNG PRIBADI MENGEMBANGKAN YANG DIPILIH

Saya merupakan alumni dari SMK ISLAMIYAH CIAWI TASIKMALAYA jurusan Multimedia. Saat pendaftaran jalur SNMPTN dan SBMPTN tidak keterima. Kemudian dibuka jalur UM (Ujian Mandiri), disitu saya benar-benar mengalami kebingungan dan kebimbangan yang sangat panjang. Saya belum tahu jurusan apa yang harus saya piliih untuk kedepannya nanti. Orang-orang disekitar saya banyak yang sudah kerja dan banyak juga yang menyarankan saya untuk bekerja saja jangan kuliah dan ada juga yang menyarankan saya untuk kuliah dan memilih jurusan yang sesuai dengan jurusan saya di SMK yaitu jurusan yang berhubungan dengan Multimedia, Informatika, Televisi dan Film dan sebagainya. Akan tetapi saya sama sekali tidak keterima di jurusan-jurusan tersebut. Ketika saya bertanya dan meminta pendapat kepada kedua orang tua saya ternyata  mereka menyuruh saya untuk menjadi guru Sekolah di SMK saya dulu. Dari situlah pada pilihan pertama saya memilih jurusan Informatika di Unsil. Untuk pilihan kedua saya mulai mencari tahu tentang jurusan-jurusan lain yang tidak terlalu sulit dan tidak terlalu mudah untuk dipelajari di bangku perkuliahan nanti dan tentunya juga dapat membawa perubahan untuk saya pribadi dan juga masyarakat sekitar. Hingga akhirnya saya menemukan suatu jurusan yang menurut saya sangatlah unik untuk dipelajari yaitu Pendidikan Luar Sekolah (PLS). Kenapa saya memilih jurusan ini karena di jurusan PLS ini mempelajari tentang kehidupan masyarakat sosial mulai dari anak kecil hingga orang lanjut usia dan rasanya saya sangat tertarik untuk mempelajari itu semua, terutama saya tertarik ingin bisa mengajar dan mengabdi kepada anak-anak pinggiran atau anak-anak yang kurang mampu dalam hal pendidikan dengan menerapkan prinsip Belajar sambil Bermain dan kelihatannya itu sangat seru. Akhirnya untuk pilihan kedua saya memilih PLS di UNSIL. Dan alhamdulillah berkat doa kedua orang tua yang tidak membolehkan saya kuliah ditempat yang jauh akhirnya saya diterima di UNSIL.
Saya sekarang telah resmi menjadi mahasiswa UNSIL jurusan PLS, saya sangat bangga bisa menjadi bagian dari jurusan ini. Walaupun diluar sana banyak orang yang tidak mengetahui apa itu Pendidikan Luar Sekolah, bagaimana prospek kerjanya, dan seakan-akan mereka memandang jurusan ini dengan sebelah mata. Jujur sebelum saya masuk dijurusan ini saya pernah mengalami kegoyahan hati ketika ditanya seperti itu ,saya minder dan saya juga pernah berpikir apakah saya salah pilih jurusan?. Dan akhirnya ini menjadi tantangan dan motivasi tersendiri untuk saya. Setelah masuk dijurusan ini saya mulai memantapkan hati dan terus menggali ilmu yang ada di jurusan ini berharap agar saya dapat menjawab semua pertanyaan-pertanyaan orang-orang tersebut. Karena SEJATINYA TIDAK ADA JURUSAN YANG TIDAK BAIK, SEMUA TERGANTUNG PADA PRIBADI MASING-MASING BAGAIMANA DALAM MENGEMBANGKAN APA YANG TELAH MEREKA PILIH.
Sebenarnya prospek kerja jurusan PLS sangatlah banyak, dan harapan saya setelah lulus kuliah dari jurusan PLS nanti, saya berharap semoga saya dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat indonesia dan memberantas kasus-kasus kemiskinan dengan cara membuka suatu usaha atau lapangan pekerjaan baru dan juga membekali mereka dengan pelatihan-pelatihan agar mereka memiliki kemampuan dalam berbagai bidang, sehingga setidaknya dapat mengurangi jumlah pengangguran yang ada di indonesia dan menyejahterakan kehidupan mereka serta mendidik calon-calon generasi penerus bangsa yang kurang beruntung dalam hal pendidikan. Selain itu saya juga ingin merubah pola pikir masyarakat menengah ke bawah dari yang tidak tahu menjadi tahu agar mereka ikut menjadi bagian dalam memajukan negara Indonesia ini.


Sabtu, 03 November 2018

SEPENGGAL SEJARAH PENDIDIKAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SILIWANGI


Mengutip dari website resmi Prodi Pendidikan Luar Sekolah Universitas Siliwangi.
Jurusan Pendidikan Luar Sekolah (PLS) mulai berdiri Th 1979, merupakan pengembangan dari Comunity Collage Tahun 1976 cikal bakal berdirinya perguruan Tinggi yang di usung oleh pemerintah daerah Kabupaten Tasikmalaya, Penyelenggaraan kegiatan akademiknya diselenggarakan di bangunan  terletak di Jln. Tentara Pelajar Tasikmalaya dan saat ini menjadi milik dinas Pendidikan kota Tasikmalaya digunakan sebagai Sekolah Menengah Atas Negeri 5 Tasikmalaya.

Sejak beralih nama dan fungsi Comunity Collage 1976 dikembangkan menjadi Administrasi Suverpisi Pendidikan (ADSUP) yang merupakan binaan IKIP Bandung Tahun 1978, setahun berikutnya tahun 1979 dibuka jurusan baru yakni IPPS (Ilmu Pendidikan Dan Pengembangan Sosial) yang belakangan menjadi PLS Pada saat itu mahasiswa yang menempuh pendidikan berjumlah 29 orang dari kalangan karyawan dan reguler dengan strata pendidikan Sarjana Muda lulusannya bergelar Bachelor of Art (BA).

Jurusan Ilmu Pendidikan dan Pengembangan sosial (IPPS) pada saat itu dibimbing dan dibina langsung oleh dosen-dosen IKIP  sekarang UPI  diprakarsai oleh  Drs. H. Engking Soewarman Hasan, M.Pd serta Drs. Ahmad Juwaeni sebagai ketua jurusan pada saat itu. Kemudian Pada tahun 1980 sejalan dengan pengembangan jurusan seperti Bhs Indonesia, Bahasa Inggris, Biologi dan Matematika maka beralih fungsi menjadi Sekolah Tinggi keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) yang diprakarsai oleh tokoh-tokoh Tasikmalaya diantaranya Drs. Oman Roesman, Drs H Agus Permadi dan Drs, H Hasan Basri  Dibawah naungan yayasan Angkatan 1945 dimana Bapak H.S. Karnasasmita sebagai ketua Yayasan.

Kemudian berlanjut pada tanggal 1 november 2017 jurusan pendidikan luar sekolah berganti nama menjadi Pendidikan Non Formal, setelah  3 bulan jurusan (PNF) berganti nama lagi menjadi Pendidikan Masyarakat yang di prakarsai oleh Universitas Pendidikan Indonesia. Itulah sepenggal sejarah tentang PENMAS UNSIL yang saya ketahui.