Selasa, 29 Maret 2022

FIHI MA FIHI - Mengarungi Samudera Kebijaksanaan

 


Semuanya Karena Allah

Manusia adalah Astrolah Allah

Maulana Jalaludin Rumi


Bermula dari rasa keingintahuan yang tinggi, rasa ingin menenangkan diri dari hiruk pikuk dunia, lalu kemudian  ketertarikanku akan ilmu filsafat, sufi dan tasawuf semakin meningkat. Perlahan aku mencoba mencari referensi tentang apa saja yang bisa aku pelajari. Salah satu Ustadz yang juga merupakan seorang dosen di UINSUKA Jogjakarta menjadi idolaku. Seringkali aku dengarkan kajiannya lewat spotify dan youtube membuat aku menandai siapa siapa saja tokoh yang kiranya bisa aku pelajari, mulai dari biografi juga tentang bukunya. Seringkali beliau menyebutkan Jalaludin Rumi pada setiap moment Ngaji Filsafatnya, juga sebenarnya ada tokoh lain seperti Imam Ghozali, dan Para filsuf berbagai negara.

 

Sebelum ini, aku pernah mencoba mempelajari Filsafat Yunani, sangat menarik sekali. Konon katanya ketika belajar filsafat bisa saja gila jika tidak diimbangi iman. Menurutku sih, tidak se mengerikan itu, coba saja mulai dari hal yang ringan, kemudian cari teman yang bisa diajak sharing juga guru yang bisa membimbing. Setahuku dalam mempelajari sesuatu itu ada kelas atau tahapannya, atau juga levelnya. Akal manusia itu terbatas, kalo toh pas sudah merasa mentok dan ndak kuat ya jangan dipaksa, begitu sih pandanganku. Sewajarnya saja, jangan menggila.

 

Masuk ke dalam buku Fihi Ma Fihi ini, menjadi buku Jalaludin Rumi yang aku coba baca, pelajari dan pahami. Mulai dari bab pertama dan kedua sudah membuatku terkesima. Aku berencana menuliskannya kembali dalam artikelku ini, sembari aku memberi tanggapan. Oke akan aku mulai dari beberapa rangkuman yang aku tulis.

Kata-kata adalah bayangan dan cabang dari hakikat; jika bayangan bisa menarik sebuah benda, maka tentu hakikat akan jauh lebih bisa. Kata-kata adalah media. Yang sesungguhnya membawa manusia kepada orang lain adalah unsur harmoni (keserasian) nya, dan bukan kata-kata.

Pemikiran tentang sesuatulah yang membawa orang tersebut datang kepada sesuatu yang dipikirkannya. Memikirkan taman akan membawa seseorang menuju taman, dan memikirkan toko akan mengantarkan orang menuju toko. Tetapi di antara pemikiran-pemkiran ini terdapat sesuatu yang palsu dan sulit dibedakan. Bukankah kamu pernah mendatangi suatu tempat, tetapi kemudian kamu menyesal karena telah mendatanginya dan berkata: “Aku pikir ini tempatnya, tapi ternyata bukan?”

Pemikiran ini laksana sebuah kemah yang di dalamnya terdapat seseorang yang sedang bersembunyi. Ketika pemikiran menghilang dari pandangan dan hanya hakikat tanpa selubung pemikiran yang tampak, maka akan terjadi kebingungan yang luar biasa. Jika hal itu terjadi, tidak akan da lagi penyesalan.

Ketika mucul hakikat yang menarikmu, maka tidak akan ada hal lain lagi selain hakikat itu. Hakikat itu sendirilah yang menarikmu. Sesungguhnya yang menarik hanya ada satu, tetapi muncul dalam bentuk yang bermacam-macam. Tidakkah kamu sadar bahwa manusia dikuasai oleh ratusan keinginan yang berbeda-beda?

                Ya, betul sekali, kita terkadang dipusingkan dan dibuat stres oleh pikiran kita sendiri. Bagaimana tidak? Kita seringkali memikirkan sesuatu terlalu jauh, terlalu rumit padahal faktanya tidak seburuk dan semengerikan apa yang kita pikirkan. Oleh karena itu aku tertarik pada buku-buku tentang self improvement, juga buku-buku tentang menyederhakanan pola pikir dan kehidupan. Memikirkan apa yang dipikirkan, “kenapa ya aku sampe mikir kaya gini? Kok bisa sih?” sekelumit kalimat tanya pada otak yang seringkali menyeruak ke permukaan, hingga penasaran apakah orang lain juga sama sepertiku? Apakah ada yang bisa memahamiku? Ah sudahlah. Nanti kita sambung lagi di cerita selanjutnya.

 

Peluk Cium,

 

Lailatul Maqhfiroh

Selasa, 09 Februari 2021

Monoton dan Ketidakpastian

Dari @penalala_
Selasa, 9 Februari pukul 22.51 WIB

Menuju kurang dari satu tahun, mendekati seperempat abad
Tahun genap ke tahun ganjil
Dua tiga ke dua empat, terasa mendekat dan semakin cepat

Monoton dan ketidakpastian
Bahhh... Nampaknya seperti saklar lampu Bisa on off semau siapapun

Entah mengapa terasa monoton menuju satu tahun sebelum seperempat abad
Hari hari yang dilalui terasa sama
Segala yang dilakukan sama, waktu berulang tapi semakin mengurang, hanya saja pikiran berantakan yang selalu menyeruak membuat semakin membuatku pening

Jika dibilang tak sesuai rencana jelas iya
Jika dikata dua tiga di dua ribu dua puluh tampak menyakitkan jelas sangat
Yang dianggap rumah benar benar hancur
Yang dianggap bahu benar benar pergi
Yang menawarkan hati juga melarikan diri
Ketidakpastian, terencana dengan rapi, mati tanpa permisi

Ada bisikan,
Ada rayuan,
Mendekap, mendekat, pekat
Pencipta memberi tanda, ada sesuatu yang akan mendekat

Berupa janji manis manusia terucap namun perlakuan yang tak beradab, hingga kematian yang mendekat

Harapan hanyalah harapan
Kepahitan dalam kenyataan
Yang kutahu, untuk segala apapun yang berulang, monoton, entah mengecewakan atau bahkan sangat menyakitkan, hmmm yaah hanya ada satu sandaran untuk segala ketidakpastian.
Monoton boleh, sia sia jangan!
Hidupkan kembali saklarmu!
Tuhan sudah siapkan hal yang indah
Percayalah!

Selasa, 24 November 2020

Tentang Doa


Jumat, 4 September 2020 

(di dalam shuttle bus Sumber Alam)


__________

Aku baru tersadar, 

Kenapa seringkali dikecewakan 

Oleh orang orang yang aku sayang

Ternyata ketika kuingat kembali

Detail setiap doa yang kupanjatkan 

Doa yang terucap di sujud lima waktu

Atau disepertiga malamku


Aku meminta diberikan jodoh, 

Diberikan imam, 

Diberika jalan yang memudahkan, 

Untuk dapat membawaku ke SurgaMu

Yang dapat menjadikanku lebih sholihah

Yang dapat membimbingku

Menjadi wanita pada kodratnya


Aku tersadar

Dosaku banyak,

Khilafku lebih banyak,

Terkadang banyak lalai bahkan sengaja,

Tapi tidakkah aku salah, memohon PadaMu

Al Ghofur Maha Memberi Pengampunan

Al Muhaimin Maha Mengatur

Al Samii Maha Mendengar

Al Mujib Maha Mengabulkan


Ternyata, 

Ketika aku dikecewakan, 

Allah menegurku, 

Seakan berkata :

"Bukan dia, bukan dia, dan terakhir kalinya bukan juga dia,tunggulah sebentar, yang kau mau akan datang, jika waktunya sudah tiba, bersabarlah" 

Aku terlalu mencintai hambaMu

Aku terkadang melupakan aturanMu


Aku kembali tersadar, 

Begitu Engkau sangat menyayangiku, 

Ya Allah, 

Yaa Rahman Yaa Rahiim yang Maha Pengasih

Lagi Maha Penyayang

Aku akan bersabar, 

Mengulang kembali doaku, 

Merincikan doaku, 

Menguatkan kembali Imanku

Semoga ridhomu hadir, 

Segala kebaikan menyelimutiku

Terimakasih ya Allah

Ridhoi aku mencintai Mu


Engkau berikan kembali rasa sakit itu, 

Ketika mengetahui perceraian di depan mataku

Bukankah Engkau membeci itu?

Manusia Batu


 Jogjakarta, 27 September 2020


Halo Manusia Batu, 

Mau sampai kapan menjadi sekeras batu? 

Menutup diri sampai mati terbunuh waktu? 

Luka tidak akan sembuh begitu saja, 

Bertahan dibalik jeruji baja? 

Kamu akan mati sia sia, 


Jika kamu belum bisa menemukan seseorang  yang bisa membuatmu lepas untuk bercerita 

Sementara ini coba temukan orang yang bisa membuatmu tertawa

Dia yang berusaha membuatmu tertawa,

Perlahan akan membuatmu lebih tenang dan percaya,

Menemukan seseorang yang tepat, tidak semudah seperti angan kita,


Jangan fokus pada lukamu

Tuhan sudah siapkan bahagiamu

Sudah yaa, jangan lama lama jadi batu,

Semua hanya butuh waktu

FIHI MA FIHI - Mengarungi Samudera Kebijaksanaan

  Semuanya Karena Allah Manusia adalah Astrolah Allah Maulana Jalaludin Rumi Bermula dari rasa keingintahuan yang tinggi, rasa ingin m...