MAKALAH
PERAN BAHASA INDONESIA DALAM KARYA ILMIAH
Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata
Kuliah Bahasa Indonesia Semester Genap
Tahun Akademik 2023/2024
Dosen: Sofyandanu Setiadi, [Link]., [Link].
oleh:
Nama : Dewi Anggraeni
NIM : B.131.22.0518
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS SEMARANG
TAHUN 2024
KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang, penulis panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah, serta inayah-Nya kepada kita semua, dan hanya
dengan qudrat dan iradat-Nyalah penulis dapat menyelesaikan tugas makalah
tentang “Peran Bahasa Indonesia dalam Karya Ilmiah”. Adapun tujuan dari
pembuatan makalah ini yaitu untuk memenuhi tugas mata kuliah Bahasa
Indonesia semester genap tahun akademik 2023/2024 pada program studi
manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Semarang.
Penulis menyadari bahwa penyusunan makalah ini tidak lepas dari
bimbingan, motivasi, dan bantuan baik moral maupun material dari berbagai
pihak. Oleh karena itu, penulis menyampaikan terima kasih kepada :
1. Bapak Sofyandanu Setiadi, [Link]., [Link]. sebagai dosen pengampu mata
kuliah Bahasa Indonesia yang telah memberi arahan dalam penyusunan
makalah.
2. Orang tua yang telah memberikan dukungan dan fasilitas yang dibutuhkan.
3. Serta beberapa sumber yang telah membantu menyelesaikan penyusunan
makalah.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna, baik
dari teknik penulisan maupun materi mengingat kemampuan yang penulis miliki.
Oleh karena itu, kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun
selalu penulis harapkan demi kesempurnaan makalah ini. Sebelumnya, penulis
mohon maaf jika terdapat kata-kata yang kurang berkenan.
Semoga dengan penyusunan makalah ini memberikan manfaat bagi
pembaca sehingga dapat menambah pengetahuan dan pemahaman diri. Dan
semoga Allah Swt. senantiasa meridhai segala usaha kita. Aamiin.
Kendal, 30 Juni 2024
Penulis
Peran Bahasa Indonesia dalam Karya Ilmiah | 2
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.............................................................................................ii
DAFTAR ISI..........................................................................................................iii
BAB 1 PENDAHULUAN.......................................................................................1
1.1 Latar Belakang.......................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah..................................................................................4
1.3 Tujuan....................................................................................................4
BAB 2 PEMBAHASAN..........................................................................................6
2.1 Peranan Bahasa Indonesia dalam Konsep Ilmiah..................................6
2.2 Struktur, Pola dan Sistematika...............................................................7
2.3 Ciri-Ciri Penggunaan Bahasa Indonesia dalam Karya Ilmiah...............8
2.4 Kaidah Penulisan Karya Ilmiah.............................................................9
2.5 Jenis Penulisan Ilmiah.........................................................................10
2.6 Karakteristik dan Unsur-unsur Penulisan Karya Ilmiah......................11
2.7 Pilihan Kata dan Istilah yang Tepat.....................................................14
2.8 Kalimat Efektif....................................................................................17
2.9 Ciri-ciri Spesifik Bahasa Ragam Ilmu.................................................20
2.10 Dilema Penggunaan Bahasa Ragam Ilmu...........................................22
BAB 3 PENUTUP.................................................................................................23
3.1 Kesimpulan..........................................................................................23
3.2 Saran....................................................................................................25
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................26
Peran Bahasa Indonesia dalam Karya Ilmiah | 3
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi Negara Republik Indonesia,
sebagaimana yang telah disahkan pada sumpah pemuda 1928. Selain itu bahasa
Indonesia mempunyai kedudukan yang sangat penting bagi warga Negara
Indonesia. Dalam peranannya bahasa Indonesia dalam penulisan atau dalam
konteks ilmiah sangatlah penting. Dikarenakan dalam penulisan karya ilmiah
membutuhkan penggunaan tata bahasa Indonesia yang baik. Penggunaan tata
bahasa Indonesia dalam konteks ilmiah ialah penggunaan tata bahasa yang telah
mengikuti aturan EYD yang benar. Di mana dalam segi penggunaan tata bahasa,
segi pemilihan kata, dan segi penggunaan tanda baca.
Menurut Cohen & Riel (1989), menulis merupakan suatu kegiatan
berkomunikasi, yaitu suatu sarana untuk berbagi informasi, ide, pikiran dan
hasil pengamatan dengan orang lain. Seseorang seringkali hanya ingin
merekam informasi, ide, pikiran, dan hasil pengamatannya ketika menulis untuk
dibaca kembali pada suatu saat oleh diri sendiri. Jika tujuannya begitu, maka
tata cara menulis yang digunakan tidaklah terlalu penting karena yang perlu
diperhatikan adalah, apakah tulisannya kelak dapat dipahami oleh dirinya sendiri.
Namun, tata cara menulis menjadi penting manakala seorang penulis ingin
berbagi hasil pengamatan, informasi, ide, dan pikiran dengan orang lain
melalui hasil tulisannya.
Berkaitan dengan proses komunikasi itulah bahasa lantas memegang
peranan penting dalam penulisan karya ilmiah. Bahasa merupakan media
pengungkap gagasan penulis (Basuki, 2000). Sebagai pengungkap gagasan,
bahasa dalam karya tulis ilmiah dituntut mampu mengungkapkan gagasan
keilmuan secara tepat sehingga gagasan penulis dapat ditangkap pembacanya
secara tepat pula. Kekeliruan pemakaian bahasa dalam karya tulis ilmiah
menyebabkan gagasan yang disampaikan penulis tidak dapat diterima atau
dipahami pembaca. Seringkali terjadi, pemakaian bahasa yang salah
menyebabkan pemahaman pembaca bertolak belakang dengan gagasan penulis.
Peran Bahasa Indonesia dalam Karya Ilmiah | 1
Banyak keluhan terlontar dari para pemakai bahasa, baik penulis, pembaca,
pembicara, maupun pendengar di seputar penggunaan bahasa Indonesia pada
umumnya dan bahasa Indonesia ragam ilmu pada khususnya. Kontroversi antara
kejelasan dan kebakuan, kepraktisan dan penghematan kata, bahasa tulis dan
bahasa lisan, sering muncul dalam berbagai polemik dan seminar.
Sementara itu, tiada henti-hentinya lembaga pranata bahasa mengeluarkan
pedoman-pedoman, pembakuan istilah-istilah baru, kamus, dan sebagainya guna
memantapkan posisi bahasa Indonesia sebagai salah satu bahasa modem.
Kemampuan bahasa Indonesia sebagai bahasa ilmiah meskipun
masih diragukan telah disepakati untuk terns dikembangkan. Membiasakan
diri menulis dengan demikian merupakan wujud nyata dari kesepakatan untuk
bersama-sama mengembangkan bahasa Indonesia ragam ilmu.
Sesuai dengan ranah penggunaannya, bahasa Indonesia yang digunakan
dalam penulisan karya ilmiah adalah bahasa Indonesia ragam ilmu, bukan
ragam jumalistik, ragam sastra, ragam lisan, atau ragam lainnya. Oleh sebab itu,
kaidah pemakaian bahasa Indonesa ragam ilmu perlu mendapat perhatian khusus
dalam menulis karya ilmiah.
Gagasan yang tertuang dalam makalah ini lebih merefleksikan
pengalaman pribadi sebagai pengguna aktif bahasa Indonesia daripada
mencerminkan gagasan seorang ahli bahasa. Karenanya penulis lebih suka
membicarakan soal problematika penggunaan bahasa daripada membicarakan
tuntunan dalam berbahasa. Meskipun begitu, agar gagasan ini memberikan
manfaat, berturut-turut akan dibicarakan soal struktur, pola dan sistematika
berpikir dan berbahasa, ciri-ciri spesifik bahasa ragam ilmu, keterampilan
menulis paragraf dan dilema penggunaan bahasa ragam ilmu dalam karya tulis
ilmiah.
Menulis sebuah karya ilmiah tidak hanya memerlukan teknik tetapi juga
keberanian dalam mengungkapkan gagasan yang kita miliki. Keberanian tersebut
akan muncul jika dalam diri seorang penulis terdapat motivasi yang sangat kuat.
Motivasi tersebut dapat berbeda antara satu individu dengan yang lain. Akan
tetapi, motivasi yang sangat berpengaruh biasanya didasari oleh adanya
kemampuan atau penguasaan teknik penulisan yang dimiliki oleh seorang penulis.
Peran Bahasa Indonesia dalam Karya Ilmiah | 2
Penguasaan teknik penulisan meliputi penguasaan teknik mengorganisasi
gagasan menjadi satu tulisan yang mudah dipahami, meyakinkan, dan sekaligus
menarik serta penguasaan pengolahan bahasa yang memadai untuk mengantar
gagasan tersebut agar sampai pada pembaca dengan baik pula. Teknik-teknik
seperti itu tentunya berkaitan dengan alur pikir yang dipakai serta ekspresi
kebahasaan yang dipilih oleh seorang penulis. Alur pikir seorang penulis akan
tampak jelas dalam bahasa yang dipakainya. Oleh karena itu, bahasa merupakan
salah satu faktor yang perlu dipersiapkan dalam rangka membekali penulis agar
percaya diri dalam mengungkapkan ide-idenya lewat tulisan.
Dalan penulisan karya ilmiah, memang ada ketentuan atau aturan khusus
yang harus diikuti oleh seorang penulis dalam menggunakan bahasanya. Bahasa
dalam karya ilmiah mempunyai ciri khas yang berbeda dengan bahasa dalam
karya-karya fiksi atau tulisan di media massa. Bahasa dalam karya ilmiah adalah
ragam bahasa tulis yang termasuk dalam ragam bahasa baku yaitu ragam yang
mempunyai kaidah-kaidah paling lengkap dibanding ragam lainnya, ragam yang
mempunyai gengsi dan wibawa yang tinggi dan yang menjadi tolok bandingan
bagi pemakaian bahasa yang benar (Alwi, dkk, 2003:13). Secara khusus bahasa
baku yang dipakai dalam karya tulis ilmiah ini disebut dengan bahasa Indonesia
ragam ilmiah atau ragam ilmu pengetahuan.
Sering kali pada konteks ilmiah bahasa diartikan sebagai buah pikir penulis,
sebagai hasil dari pengamatan, tinjauan, penelitian yang dilakukan oleh si penulis
tersebut pada ilmu pengetahuan tertentu. Dalam konteks karya ilmiah isi dari karya
ilmiah harus menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, baik dalam
penulisan dan tata bahasanya. Adapun manfaat penyusunan karya ilmiah bagi
penulis adalah berikut:
1. Melatih untuk mengembangkan keterampilan membaca yang efektif.
2. Melatih untuk menggabungkan hasil bacaan dari berbagai sumber.
3. Mengenalkan dengan kegiatan kepustakaan.
4. Meningkatkan pengorganisasian fakta/data secara jelas dan sistematis.
5. Memperoleh kepuasan intelektual.
6. Memperluas cakrawala ilmu pengetahuan.
Peran Bahasa Indonesia dalam Karya Ilmiah | 3
1.2 Rumusan Masalah
Dari uraian yang telah dipaparkan di pendahuluan, penulis merumuskan
beberapa masalah yang akan dibahas, yakni :
1. Bagaimana peran bahasa Indonesia dalam karya ilmiah?
2. Bagaimana struktur, pola dan sistematika dalam penulisan karya ilmiah?
3. Apa saja ciri-ciri penggunaan bahasa Indonesia dalam karya Ilmiah?
4. Bagaimana kaidah penulisan karya ilmiah?
5. Apa saja jenis penulisan ilmiah?
6. Apa saja karakteristik dan unsur-unsur penulisan karya ilmiah?
7. Apa saja pilihan kata dan istilah yang tepat dalam penulisan karya ilmiah?
8. Bagaimana kalimat efektif dalam penulisan karya ilmiah?
9. Apa saja ciri-ciri spesifik bahasa ragam ilmu?
10. Bagaimana dilema penggunaan bahasa ragam ilmu?
1.3 Tujuan
Dari penulisan makalah ini diharapkan mendatangkan manfaat berupa
penambahan pengetahuan serta wawasan kepada para pembaca mengenai peran
bahasa Indonesia dalam karya ilmiah dan juga fungsinya sebagai bahasa negara
dan bahasa nasional.
Selain itu, Berdasarkan rumusan masalah yang telah dimunculkan,
makalah ini bertujuan sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui dan memahami peran bahasa Indonesia dalam karya
ilmiah.
2. Untuk mengetahui struktur, pola dan sistematika dalam penulisan karya
ilmiah.
3. Untuk mengetahui ciri-ciri penggunaan bahasa Indonesia dalam karya
Ilmiah.
4. Untuk mengetahui kaidah penulisan karya ilmiah.
5. Untuk mengetahui jenis penulisan ilmiah.
6. Untuk mengetahui karakteristik dan unsur-unsur penulisan karya ilmiah
7. Untuk mengetahui pilihan kata dan istilah yang tepat dalam penulisan
karya ilmiah.
Peran Bahasa Indonesia dalam Karya Ilmiah | 4
8. Untuk mengetahui kalimat efektif dalam penulisan karya ilmiah.
9. Untuk mengetahui ciri-ciri spesifik bahasa ragam ilmu.
10. Untuk mengetahui dilema penggunaan bahasa ragam ilmu.
Peran Bahasa Indonesia dalam Karya Ilmiah | 5
BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 Peranan Bahasa Indonesia dalam Konsep Ilmiah
Peranan Bahasa Indonesia dalam Konsep Ilmiah. Bahasa merupakan kunci
untuk membuka wawasan dan pengetahuan. Hanya dengan bahasalah kita dapat
menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Walaupun bahasa Indonesia sudah
berperan sebagai alat persatuan tetapi belum dapat berperan sebagai pengantar
ilmu pengetahuan. Hal tersebut mengharuskan kita menerjemahkan semua buku
ilmu pengetahuan di dunia ini ke dalam bahasa Indonesia. Dengan adanya
informasi ilmiah dalam bahasa Indonesia tersebut, pasti akan ada kemajuan di
bidang ilmu pengetahuan yang berarti meningkatkan mutu bahasa Indonesia
sebagai bahasa ilmiah. Bahasa dipakai sebagai alat mengungkap gagasan dan
pikiran. Dengan begitu bahasa adalah alat komunikasi sekaligus alat untuk
memahami isi dari komunikasi itu sendiri. Komunikasi antar-orang,
termasuk komunikasi ilmuwan terhadap fenomena alam dan fenomena
kebudayaan.
Karya tulis ilmiah atau akademik menuntut kecermatan dalam penalaran
dan bahasa. Dalam hal bahasa, karya tulis semacam itu (termasuk laporan
penelitian) harus memenuhi ragam bahasa standar (formal) atau bukan bahasa
informal atau [Link] bahasa karya tulis ilmiah atau akademik
hendaknya mengikuti ragam bahasa yang penuturnya adalah terpelajar dalam
bidang ilmu tertentu. Ragam bahasa ini mengikuti kaidah bahasa baku untuk
menghindari ketaksaan atau ambiguitas makna karena karya tulis ilmiah tidak
terikat oleh waktu. Dengan demikian, ragam bahasa karya ilmiah sedapat-
dapatnya tidak mengandung bahasa yang sifatnya kontekstual seperti ragam
bahasa jurnalistik. Tujuannya agar karya tersebut dapat tetap dipahami oleh
pembaca yang tidak berada dalam situasi atau konteks saat karya tersebut
diterbitkan. Masalah ilmiah biasanya menyangkut hal yang sifatnya abstrak atau
konseptual yang sulit dicari alat peraga atau analoginya dengan keadaan nyata.
Untuk mengungkapkan hal semacam itu, diperlukan struktur bahasa keilmuan
adalah kemampuannya untuk membedakan gagasan atau pengertian yang memang
Peran Bahasa Indonesia dalam Karya Ilmiah | 6
berbeda dan strukturnya yang baku dan cermat. Dengan karakteristik ini, suatu
gagasan dapat terungkap dengan cermat tanpa kesalahan makna bagi
penerimanya. Penulisan ilmiah merupakan sebuah karangan yang bersifat fakta
atau real yang ditulis dengan menggunakan penulisan yang baik dan benar serta
ditulis menurut metode yang ada.
Dalam menulis karya ilmiah sebaiknya menggukan kata-kata atau kalimat
yang sesuai dengan kaidah dan bahasa yang penuturannya terpelajar dengan
bidang tertentu, ini berguna untuk menghindari ketaksaan atau ambigu makna
karna karya ilmiah tidak terikat oleh waktu. Dengan demikian, ragam bahasa
penulisan karya ilmiah tidak mengandung bahasa yang sifatnya konstektual. Oleh
karena itu, pengajar perlu memperhatikan kaidah yang berkaitan dengan
pembentukan istilah, Pedoman Umum Pembentukan Istilah (PUPI) yang
dikeluarkan oleh pusat pembinaan bahasa Indonesia merupakan sumber yang baik
sebagai pedoman dalam memperhatikan hal-hal tersebut. Dan juga tanda baca
yang tepat untuk di setiap kalimat yang dimuat dalam Ejaan Yang Disempurnakan
(EYD).
Ada yang menyebutkan beberapa aspek yang harus diperhatikan dalam
karya tulis ilmiah berupa penelitian yaitu: bermakna, isinya jelas, uraiannya
berkesatuan yang bulat singkat dan padat memenuhi kaidah kebahasaan,
memenuhi kaidah penulisan dan format karya ilmiah.
Bahasa Indonesia merupakan bahasa resmi kenegaraan yang digunakan di
dalam situsi formal, baik tulis maupun lisan. Penggunaan bahasa Indonesia yang
tidak tepat akan berpengaruh terhadap pemahaman pendengar/pembaca. Hal
tersebut mengakibatkan pembaca/pendengar tidak dapat memahami dengan baik
maksud yang disampaikan. Hal ini menandakan bahwa kemampuan pengguna
bahasa Indonesia masih rendah.
2.2 Struktur, Pola dan Sistematika
Banyak kalangan berpendapat bahwa sering dijumpainya kekaburan
makna antara topik, judul, dan tema dalam tulisan karya ilmiah
dikarenakan kesalahan dalam berbahasa. Tetapi patut dipertanyakan, apakah
hal itu semata-mata masalah bahasa ataukah sebenamya menunjukkan
Peran Bahasa Indonesia dalam Karya Ilmiah | 7
kelemahan struktur logika atau cara berpikir dan pemetaan konsep? Jika
karena kesalahan bahasa akan mudah dibenahi dengan memahami betul
makna topik, tema maupun judul karya tulis ilmiah. Tetapi jika kesalahan
yang terjadi karena kelemahan struktur logika, cara berpikir atau pemetaan
konsep, maka membutuhkan waktu yang panjang untuk membenahinya.
Kesalahan yang sama juga seringkali ditemui dalam karya tulis ilmiah,
terutama hasil riset yang tidak dapat secara logis dan konseptual
membedakan antara permasalahan, judul, tujuan, pertanyaan riset dan
hipotesis riset. Kesulitan yang sama dijumpai juga dalam membedakan
antara saran dan implikasi yang dijabarkan dari temuan riset maupun hasil
pemikiran. Jadi perlu ditegaskan, kecuali pemahaman dan penggunaan
bahasa, dalam menyusun karya tulis ilmiah sangat penting memperhatikan
hirarki pemikiran, terutama konsep dan logika di samping kronologi
atau urutan (sistematika) langkah penalarannya. Artinya, sebelum penulis
karya ilmiah berhadapan dengan persoalan penggunaan bahasa, maka pertama-
tama ia harus berbenah diri soal struktur, pola, dan sistematika berpikir.
Dalam hubungan dengan struktur, pola dan sistematika berpikir, terdapat
kecenderungan bahwa karena tulisan ilmiah itu format dan sistematikanya
sudah baku dan universal, maka pemakaian bahasa menjadi monoton dan
kurang bervariasi. Hal ini merupakan dilema. Pada satu sisi diinginkan
sistematika yang jelas dan mencerminkan pola pikir ilmiah, pada sisi lain tetap
diharapkan munculnya keragaman dan kreativitas penulisan melalui
penggunaan bahasa. Kecenderungan yang terjadi ialah, kelancaran atau
keterbacaan karya ilmiah seringkali dikorbankan guna mewujudkan
kesan keseriusan ilmiah dan ketaatan dalam berbahasa. Cukup bukti untuk
mengatakan bahwa kebanyakan orang akan lebih senang membaca roman
daripada membaca skripsi, thesis, maupun disertasi. Banyak orang akan lebih
suka menghabiskan waktu berjam-jam untuk membaca novel daripada laporan
riset atau jumal.
Peran Bahasa Indonesia dalam Karya Ilmiah | 8
2.3 Ciri-Ciri Penggunaan Bahasa Indonesia dalam Karya Ilmiah
Karya ilmiah adalah suatu karya yang memuat dan mengkaji suatu
masalah tertentu dengan menggunakan kaidah-kaidah keilmuan yaitu
menggunakan metode ilmiah di dalam membahas permasalahan, menyajikan
kajiannya dengan menggunakan bahasa baku dan tata tulis ilmiah, serta
menggunakan prinsip-prinsip keilmuan yang meliputi: bersifat objektif, logis,
empiris, sistematik, lugas, jelas, dan konsisten ( Jajah Koswara dalam Prayitno,
dkk, 2000: 12). Sesuai dengan ciri-ciri tersebut, tulisan yang termasuk dalam jenis
karya ilmiah di antaranya ialah: makalah (paper), artikel ilmiah, laporan akhir, dan
laporan penelitian (termasuk skripsi, tesis, dan disertasi). Dari pengertian tersebut
jelas sekali bahwa sebuah tulisan ilmiah harus memenuhi kriteria keilmiahan
tertentu serta kriteria kebahasaan yang tertentu pula.
Sifat objektif, logis, sitematik, lugas, dan jelas dalam sebuah karya tulis
ilmiah dapat dicapai hanya dengan bahasa yang tepat. Isi atau gagasan yang
sangat bagus jika disampaikan dengan bahasa yang kurang tepat atau kurang
bagus akan berakibat pada kurangnya pemahaman pembaca terhadap ide atau
gagasan yang disampaikan oleh penulis. Oleh karena itu, faktor bahasa dalam
karya ilmiah menjadi salah satu faktor yang sangat penting untuk dipersiapkan.
Untuk mencapai kualitas tulisan ilmiah yang baik khususnya dilihat dari
segi bahasanya, perlu kiranya dipahami bahwa bahasa Indonesia dalam karya
ilmiah mempunyai beberapa ciri khas atau aturan yang berbeda dari karya tulis
nonilmiah. Terdapat beberapa ciri khas yang harus dipenuhi dalam hal
penggunaan bahasa Indonesia dalam penulisan karya ilmiah. Menurut Suwito
(1982) bahasa tulis ragam ilmu pengetahuan memiliki ciri-ciri yaitu:
1. Pilihan kata dan peristilahannya tepat
2. Kalimatnya efektif dan penataannya dalam paragraf baik
3. Penalaran dan sistematikanya bagus
4. Pemaparan dan gaya bahasanya menarik (Markhamah dalam Prayitno,
dkk, 2000:128).
2.4 Kaidah Penulisan Karya Ilmiah
Berikut ini beberapa kaidah penulisan karya ilmiah, diantaranya:
Peran Bahasa Indonesia dalam Karya Ilmiah | 9
1. Logis
Karya ilmiah adalah karya tulis yang harus memiliki logika penulisan.
Dalam karya ilmiah, logika berarti keruntutan penjelasan dari data dan
informasi. Penyajian data dan informasi dapat diterima oleh
pemikiran kebenaran ilmu.
2. Objektif
Objektif di sini berarti data dan informasi sesuai dengan fakta yang
sebenar-benarnya. Hal ini didukung dengan pembuktian berupa teori atau
fakta yang telah teruji keabsahannya. Pemberian bukti berbentuk teori
dan fakta dilakukan dengan mengumpulkan berbagai jenis bahan pustaka,
yang menjadi penunjang informasi dalam karya ilmiah.
3. Sistematis
Karya ilmiah yang sistematis berarti menyajikan data dan informasi dari
hasil kajian dengan mengikuti urutan pola pikir yang teratur, konsisten,
dan berkelanjutan. Keteraturan informasi dilakukan dengan
membentuk konvensi yang menjadi acuan dalam sistematika penulisan
karya ilmiah.
2.5 Jenis Penulisan Ilmiah
Terdapat beberapa jenis penulisan ilmiah yang dapat di kategorikan
sebagai berikut :
1. Makalah
Karya tulis yang menyediakan permasalahan dan pembahasan sesuai
dengan data yang telah di dapatkan di lapangan dengan objektif.
2. Kertas Kerja
Pada umumnya kertas kerja hamper sama dengan makalah akan tetapi
kertas kerja digunakan untuk penulisan local karya atau seminar serta lebih
mendalam dari makalah.
3. Laporan Praktik Kerja
Karya ilmiah yang memaparkan fakta yang di temui di tempat bekerja
yang digunakan untuk penulisan terakhir jenjang diploma III (DIII).
4. Skripsi
Peran Bahasa Indonesia dalam Karya Ilmiah | 10
Merupakan karya ilmiah yang mengemukakan pendapat orang lain dan
data yang telah di dapat di lapangan yang digunakan untuk mendapat gelar
S1 : Langsung (observasi lapangan) Skripsi Tidak langsung (studi
kepustakaan).
5. Tesis
Karya ilmiah yang bertujuan untuk melakukan pengetahuan baru dengan
melakukan peneluitian penelitian terhadap hasil hipotesis yang ada.
6. Disertasi
Karya tulis untuk mengungkap dalil baru yang dapat dibuktikan
berdasarkan fakta yang realistis dan data yang relefan serta objektif.
2.6 Karakteristik dan Unsur-unsur Penulisan Karya Ilmiah
a) Karakteristik Karya Ilmiah
Berikut ini karakteristik karya ilmiah, diantaranya:
1) Reproduktif
Karya ilmiah ditulis oleh peneliti atau penulis harus diterima dan
dimaknai oleh pembacanya sesuai makna yang ingin disampaikan.
Pembaca harus bisa langsung memahami konten dari karya ilmiah.
2) Tidak Ambigu
Sebuah karya ilmiah harus memberikan pemahaman secara detail
dan tidak dikemas dengan bahasa yang tidak membingungkan.
Dengan begitu, maksud dari karya ilmiah itu bisa langsung
diterima oleh pembacanya.
3) Harus Objektif dan Hindari Kesan Emotif
Karakteristik karya ilmiah selanjutnya ialah harus objektif dan
tidak boleh emotif atau dibuat dengan dasar perasaan penulis. Hal
ini penting agar karya ilmiah yang dibuat dapat menjadi suatu
karya objektif, bukan berpihak pada emosi penulis.
4) Menggunakan Bahasa yang Baku dan Memperhatikan Cara
Penulisan yang Tepat
Peran Bahasa Indonesia dalam Karya Ilmiah | 11
Karakteristik karya ilmiah yang keempat mengharuskan sebuah
karya ilmiah untuk ditulis menggunakan bahasa yang baku dan
memperhatikan cara penulisan yang tepat. Bahasa yang baku
maksudnya di sini adalah bahasa yang formal dan resmi
sesuai Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI).
5) Menggunakan Kaidah Keilmuan
Karakteristik karya ilmiah yang kelima, yakni sebuah karya ilmiah
harus ditulis dan disusun dengan kaidah keilmuan. Kaidah
keilmuan di sini maksudnya adalah metodologi penelitian yang
harus diperhatikan oleh penulis karena dengan metodologi, karya
ilmiah memiliki kerangka pemikiran yang logis.
6) Berkohesi dan Menggunakan Kalimat yang Efektif
Karakteristik karya ilmiah yang terakhir ialah berkohesi dan
menggunakan kalimat yang efektif. Berkohesi di sini maksudnya
adalah antara satu bab dengan bab yang lain harus saling
berkesinambungan, terutama isinya. Hindari penggunakan kalimat
yang tidak efektif alias bertele-tele dalam menulis sebuah karya
ilmiah.
b) Unsur-unsur Penulisan Karya Ilmiah
Tidak hanya ada struktur penulisan karya ilmiah, namun juga ada unsur-
unsur penulisan karya ilmiah, yaitu:
1) Gagasan Ilmiah
Gagasan ilmiah dalam karya ilmiah berupa pernyataan ilmiah
penulis. Gagasan ilmiah menjadi unsur utama yang dapat
membedakan antara sebuah karya ilmiah dengan tulisan orang lain.
Penulis dapat memberikan pernyataan dalam bentuk suatu hal,
masalah, konsep, prosedur, atau teori tertentu. Gagasan ilmiah
wajib ada dalam sebuah karya ilmiah.
2) Fakta
Fakta merupakan unsur karya ilmiah yang juga wajib ada di dalam
tulisan. Penulisan fakta di dalam karya ilmiah harus dapat
Peran Bahasa Indonesia dalam Karya Ilmiah | 12
dipertanggungjawabkan dan disertai bukti yang nyata. Tujuan
penggunaan fakta adalah untuk memperkuat gagasan atau
memperjelas permasalahan yang ditulis dalam sebuah karya ilmiah.
3) Data dan Hasil Penelitian
Data dan hasil penelitian harus ada di dalam karya ilmiah jika
karya ilmiah berbentuk laporan penelitian. Data penelitian dapat
berupa fakta yang tersusun sistematis. Sementara itu hasil-hasil
penelitian terdahulu juga perlu disertakan sebagai bahan
pembanding dan penentu dari bagian inti penelitian.
4) Pendapat Para Ahli
Sebuah karya ilmiah harus didasarkan pada pendapat para ahli
yang sebelumnya telah membahas topik yang sama. Tujuan
penyertaan pendapat para ahli pada bidang tertentu yaitu untuk
menunjukkan bahwa penulisan karya ilmiah didukung dengan
pembacaan terhadap berbagai informasi terkait yang dikemukakan
oleh para ahli.
5) Teori-Teori Relevan
Karya ilmiah yang berbentuk laporan penelitian maupun gagasan
konseptual harus menyajikan teori-teori yang relevan. Teori-teori
tersebut dapat menjadi acuan, penguat, atau bahan pembanding
dalam sebuah karya ilmiah.
6) Penalaran
Dalam karya ilmiah dibutuhkan penalaran dalam penyajian atau
penjabaran informasi. Penalaran diwujudkan dengan penyajian
informasi secara terpadu dan sistematis.
7) Bahasa
Bahasa merupakan salah satu unsur penting dalam penulisan karya
ilmiah. Lingkup bahasa dalam karya ilmiah mencakup penggunaan
kata, kalimat, paragraf. Penulisan karya ilmiah memperhatikan
diksi dan penggunaan ejaan serta tanda baca secara cermat.
8) Tampilan Visual
Peran Bahasa Indonesia dalam Karya Ilmiah | 13
Di dalam karya ilmiah, tampilan visual merupakan unsur
pendukung. Tampilan visual berkaitan dengan penggunaan
gambar, grafik, dan bagan di dalam karya ilmiah. Kegunaan
tampilan visual adalah untuk memperjelas informasi. Setiap
tampilan visual harus memiliki keterangan dan sumber yang jelas.
2.7 Pilihan Kata dan Istilah yang Tepat
Untuk menyampaikan gagasan secara jelas kepada pembaca, pemilihan
kata atau istilah yang tepat sangat penting dalam menulis. Karena konteksnya
adalah penulisan karya ilmiah, pemilihan kata atau diksi serta pemilihan istilah
harus mengikuti kaidah-kaidah bahasa baku. Selain itu pemilihan kata atau istilah
juga menyangkut pemilihan berdasarkan ketepatannya dalam mengantarkan
gagasan yang dimaksud oleh penulis. Berkaitan dengan pemilihan kata atau istilah
yang tepat ini, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika menulis karya
ilmiah yaitu:
a) Menggunakan Kata-kata dan Istilah yang Baku
Dalam menulis karya ilmiah, kata-kata yang dipakai adalah kata-kata yang
baku yaitu kata-kata yang sesuai dengan kaidah kebahasaan yang sudah
ditetapkan. Sebagai pedoman yang dipakai untuk menentukan mana kata yang
baku dan mana kata yang tidak baku adalah menggunakan Pedoman Ejaan yang
Disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah serta buku- buku
pedoman lain yang menunjang yang dikeluarkan oleh Pusat Bahasa.
Dalam memilih kata baku dan kata tidak baku, tidak boleh berdasar pada
kata-kata yang sering dijumpai karena belum tentu kata-kata tersebut merupakan
kata yang benar menurut kaidah. Berikut ini sedikit contoh kata- kata yang sering
dikacaukan penggunaanya:
Tidak Baku Baku
Sistim sistem
Ekstrim ekstrem
Enggauta anggota
Hipotesa hipotesis
Metoda metode
Tehnik teknik
Analisa analisis
Peran Bahasa Indonesia dalam Karya Ilmiah | 14
Hakekat hakikat
Managemen manajemen
Prosentase Persentase
b) Penggunaan kata dan Istilah yang Tepat, Cermat dan Hemat
Selain harus baku, pemilihan kata juga harus lazim, hemat, dan cermat
(Arifin, 1998:82). Kata yang lazim adalah kata yang sudah dikenal oleh
masyarakat luas. Adapun kata yang hemat adalah kata-kata yang tidak disertai
penjelasan yang panjang karena mempunyai bentuk gabungan kata yang lebih
hemat. Kecermatan pemilihan kata berkaitan dengan ketepatan antara ide
dengan bentuk yang dipilih oleh penulis.
Kata-kata yang terlalu spesifik akan susah dipahami oleh pembaca di
kalangan yang lebih luas. Oleh karena itu, jika terdapat kata-kata asing atau kata-
kata dalam bahasa daerah tertentu sebaiknya harus dicantumkan padanannya
dalam bahasa Indonesia. Sebagai contoh dalam bahasa Indonesia “kimia” dapat
diartikan sebagai “ilmu urai”, tetapi penggunaan kata “ilmu urai” sangat tidak
lazim dan yang lazim adalah penggunaan kata “kimia”.
Syarat lain dalam hal pemilihan kata yaitu kata yang dipilih adalah kata-
kata yang mengandung prinsip kehematan. Jika ada ungkapan yang lebih pendek
maka tidak perlu menggunakan ungkapan yang panjang. Contoh berikut
adalah beberapa ungkapan yang dapat disampaikan dalam bentuk yang lebih padat
dan berisi.
Tidak Hemat Hemat
1. mengadakan penelitian 1. meneliti
2. dalam rangka untuk mencapai tujuan ini 2. untuk mencapai tujuan ini
3. mempunyai pendirian 3. berpendirian
4. tujuan daripada penelitian ini adalah... 4. tujuan penelitian ini adalah...
Persyaratan penting yang lain yang harus dipenuhi dalam pemilihan kata
adalah memilih kata secara cermat. Kecermatan tersebut tentunya berkaitan
dengan kebakuannya, kehematannya, serta ketepatan maknanya. Dalam hal
kecermatan pemilihan kata ini biasanya berhubungan dengan pemilihan kata- kata
Peran Bahasa Indonesia dalam Karya Ilmiah | 15
yang bersinonim. Kata-kata yang bersinonim ini, meskipun maknanya hampir
sama tetapi mempunyai nuansa makna yang berbeda. Contoh kata-kata seperti
menguraikan, menganalisis, membagi-bagi, memilah-milah, menggolongkan, dan
mengelompokkan mempunyai makna yang mirip tetapi pemakaiannya berbeda
dalam kalimat (Arifin, 1998:84). Contoh lain misalnya penggunaan kata
“mengacuhkan” yang sebenarnya berarti “memperhatikan” kadang justr u
diartikan kebalikannya yaitu “tidak memperhatikan”. Kesalahan pengertian seperti
itu, tentunya akan mempengaruhi ketepatan pemakaian kata tersebut dalam
kalimat.
Adapun berkaitan dengan penggunaan istilah, menurut kaidah
pembentukan istilah, sumber yang dipakai sebagai pembentuk istilah dapat berupa
kosakata bahasa Indonesia, kosakata bahasa serumpun, dan kosakata bahasa asing.
Pembentukan kosakata dari ketiga sumber tersebut harus memenuhi persyaratan
yang sudah ditetapkan (Pusat Pembinaan dan Pengembangan bahasa Depdiknas,
2004). Hal ini agar standardisasi dalam hal istilah tetap terjaga serta
perkembangan bahasa dapat terkendali secara sehat.
Kosakata bahasa Indonesia yang dapat dijadikan istilah harus memenuhi
syarat seperti:
1. Kata yang dengan tepat mengungkapkan makna konsep, proses, keadaan
atau sifat yang dimaksudkan
2. Kata yang lebih singkat daripada yang lain yang berujukan sama seperti
”gulma” dibandingkan dengan “tanaman pengganggu” atau “suaka politik”
dibandingkan dengan “perlindungan politik”
3. Kata yang tidak bernilai rasa (konotasi) buruk dan yang sedap didengar
(eufonik), seprti “tunakarya” dibandingkan dengan “penganggur”.
Demikian juga jika sumber istilah berasal dari bahasa serumpun,
pembentukan istilah harus memenuhi persyaratan tersebut contoh kata-
kata seperti: gambut (Banjar), nyeri (Sunda).
Jika sumber istilah dari bahasa asing, pembentukan istilah dapat dilakukan
dengan cara:
1. Menerjemahkan, contoh: samenwerking yang berarti “kerjasama”
atau network yang artinya “jaringan”,
Peran Bahasa Indonesia dalam Karya Ilmiah | 16
2. Menyerap yaitu jika memenuhi syarat-syarat berikut: istilah serapan
lebih cocok karena konotasinya, lebih singkat jika dibandingkan
dengan terjemahan Indonesianya, atau dapat mempermudah tercapainya
kesepakatan jika istilah Indonesia terlalu banyak sinonimnya, dan
menyerap sekaligus menerjemahkan kata asing.
Berikut ini adalah contoh istilah serapan yang diambil dengan atau tanpa
pengubahan yang berupa penyesuaian ejaan dan lafal.
Istilah Istilah Indonesia Istilah Indonesia yang dijauhkan
Asing Yang
Dianjurkan
Urine Urine Kencing
amputation Amputasi pemotogan (pembuangan) anggota badan
Horizon Horizon kakilangit; ufuk cakrawala
Energy Energi daya; gaya; tenaga; kekuatan
oxygen Oksigen zat asam
Istilah asing yang dibentuk dengan cara menyerap dan menerjemahkan
sekaligus contohnya: bound morpheme, morfem terikat, subdivision, subbagian,
allegro moderato, kecepatan sedang.
2.8 Kalimat Efektif
Karya tulis ilmiah yang baik tentunya selain menggunakan diksi dan
istilah yang tepat juga harus menggunakan kalimat yang efektif. Kalimat efektif
adalah kalimat yang memenuhi kriteria jelas, sesuai dengan kaidah, ringkas, dan
enak dibaca (Arifin, 1998:84). Secara lebih rinci, Widjono (2005: 148)
mengemukakan beberapa ciri kalimat efektif adalah sebagai berikut:
1. Keutuhan, kesatuan, kelogisan, atau kesepadanan makna dan struktur
2. Kesejajaran bentuk kata, dan (atau) struktur kalimat secara gramatikal
3. Kefokusan pikiran sehingga mudah dipahami,
4. Kehematan pengunaan unsur kalimat
5. Kecermatan dan kesantunan, dan
6. Kevariasian kata, dan struktur sehingga menghasilkan kesegaran bahasa.
a) Keutuhan
Peran Bahasa Indonesia dalam Karya Ilmiah | 17
Keutuhan atau kesatuan kalimat ditandai oleh adanya kesepadanan struktur
dan makna kalimat. Kesepadanan yang dimaksud adalah adanya keseimbangan
pikiran atau gagasan dan struktur bahasa yang digunakan. Ciri kesepadanan ini di
antaranya sebuah kalimat harus mengandung gagasan pokok, terdiri S (subjek)
dan P (predikat), penggunaan konjungsi intrakalimat dan antarkalimat secara
tepat.
Contoh:
Jika Anda tidak membayar pajak, akan dikenakan denda.
Kalimat tersebut tidak sepadan karena Subjeknya tidak ada. Seharusnya kalimat
yang baku adalah “Jika tidak membayar pajak, Anda akan didenda”.
b) Kesejajaran
Kesejajaran adalah kesamaan bentuk kata yang digunakan secara konsisten
atau penggunaan bentuk-bentuk yang sama untuk menyatakan gagasan yang
sederajat.
Contoh:
Penelitian ini memerlukan tenaga yang terampil, biaya yang banyak serta cukup
waktu (tidak sejajar).
Penelitian ini memerlukan tenaga yang terampil, biaya yang banyak, serta waktu
yang cukup (sejajar).
c) Kefokusan
Kalimat efektif harus memfokuskan pesan terpenting agar mudah
dipahami maksudnya.
Contoh:
Sulit ditingkatkan kualitas dan kuantitas produk hortikultura ini (tidak efektif).
Produk hortikultura ini sulit ditingkatkan kualitas dan kuantitasnya (efektif).
d) Kehematan
Prinsip kehematan ini seperti yang sudah disinggung di atas tentang
kehematan menggunakan kata dalam mengungkapkan gagasan.
Contoh:
1. Kita harus saling hormat-menghormati
Peran Bahasa Indonesia dalam Karya Ilmiah | 18
(seharusnya tidak menggunakan “saling” karena sudah berarti saling
menghormati)
2. Makalah ini akan membicarakan tentang faktor motivasi siswa dalam
belajar.
(seharusnya tidak menggunakan “tentang” karena “membicarakan” sudah
berarti “berbicara tentang”).
e) Kecermatan dan Kesantunan
Kecermatan dam kesantunan meliputi ketepatan memilih kata sehingga
menghasilkan komunikasi baik, tepat, tanpa gangguan emosional pembaca atau
pendengar. Kecermatan dalam hal ini sama dengan kecermatan memilih kata.
Kalimat yang baik adalah kalimat yang singkat, jelas, lugas, dan tidak berbelit-
belit. Dalam kaitannya dengan kesantunan ini, sebuah karya tulis ilmiah di
Indonesia pada umumnya mengikuti kaidah bahwa penulis harus menghindari
subjektivitas, contohnya penggunaan ungkapan “ menurut pendapat saya.... adalah
ungkapan yang kurang tepat, seharusn ya data menunjukkan bahwa atau penelitian
membuktikan bahwa...
f) Kevariasian
Untuk membentuk kevariasian kalimat dapat ditempuh dengan cara
membuat variasi struktur, diksi, dan gaya, atau bahkan jenis kalimat asalkan
jangan sampai mengubah isinya atau gagasan asli yang akan disampaikan kepada
pembaca.
g) Ketepatan Diksi dan Ejaan
Ketepatan diksi adalah ketepatan memilih kata yang tepat, seperti yang
sudah dibahas sebelumnya. Adapun tentang penggunaan ejaan yang tepat adalah
penggunaan ejaan yang sesuai dengan Pedoman Ejaan Yang Disempurnakan
(EYD) yang meliputi kaidah penulisan huruf, kata, unsur serapan, dan penulisan
tanda baca dalam kalimat.
Contoh penulisan dengan prinsip EYD:
1. Untuk menjadi atlet profesional, ia harus memiliki konduite baik dan track
record yang kuar biasa.
Peran Bahasa Indonesia dalam Karya Ilmiah | 19
2. Meskipun usahanya belum berhasil, ia tidak pernah mengeluh.
3. Buku itu mahal tetapi dibelinya juga.
4. Buku ini berharga Rp50.000,00.
5. Ujian akan dilaksanakan dari tanggal 5 s.d. 10 Agustus 2006.
6. Tuhan memang Maha Esa, Mahakuasa, dan Maha Pengasih. Oleh
karena itu, kita harus selalu berdoa kepada-Nya.
Agar lebih memahami kaidah-kaidah dalam EYD ini hendaknya seorang
penulis selalu mempelajari sekaligus mempraktikkan prinsip-prinsip EYD
tersebut ketika menulis.
h) Paragraf yang Baik
Jika kalimat-kalimat yang mengantar ide atau gagasan tersebut sudah baik,
hal berikutnya yang perlu dicermati adalah apakah paragraf yang disajikan sudah
merupakan paragraf yang baik atau belum. Menurut Wibowo (2005:112) syarat
paragraf yang baik yaitu meliputi: kesatuan, kepaduan dan kelengkapan.
Paragraf yang baik harus menggunakan prinsip kesatuan yaitu dalam
sebuah paragraf hanya terdiri dari satu gagasan pokok. Semua kalimat yang
membentuk kesatuan dalam paragraf tersebut hanya merujuk pada satu
gagasan pokok tersebut. Oleh karena itu, pastikan bahwa semua kalimat yang
masih dalam satu paragraf tersebut benar-benar selaras antara satu dengan yang
lain dalam mengantarkan gagsan tersebut.
Prinsip ya ng lain adalah kepaduan yaitu kekompakan hubungan atau
kohesi dan koherensi antara kalimat yang satu dengan kalimat yang lain dalam
sebuah paragraf. Untuk menciptakan hubungan yang serasi dan selaras ini
tentunya diperlukan alat bantu yaitu dengan konjungsi (kata penghubung),
paralelisme, kata ganti, atau repetisi pada kata kunci atau menggunakan rincian
peristiwa.
Adapun yang dimaksud dengan kelengkapan dalam paragraf adalah
terpenuhinya kebutuhan akan kalimat penjelas yang mengantar kalimat utama.
Jika kalimat-kalimat yang menopang kalimat utama dikembangkan secara
jelas dan lengkap sehingga tidak menyisakan pertanyaan yang terkait dengan
Peran Bahasa Indonesia dalam Karya Ilmiah | 20
kalimat utama maka dapat dikatakan bahwa paragraf tersebut merupakan paragraf
yang lengkap.
2.9 Ciri-ciri Spesifik Bahasa Ragam Ilmu
Pada prinsipnya, problem penggunaan bahasa tidak hanya berjangkit di
kalangan intelektual yang sudah "bersahabat" (familiar) dengan ragam bahasa
tulis, tetapi juga sudah menjangkiti para penutur ketika berbahasa lisan.
Banyak penutur tidak pemah merasa malu berbicara meskipun mereka salah
dalam berbahasa. Sebab selain tidak ada sanksi sosial dan hukuman atas
kesalahan tersebut, juga karena tidak ada tuntutan setiap penutur harus cendekia
dalam berbahasa (Mutrofin, 2001). Anehnya, pada saat yang sama para
penutur tidak pemah berani alias malu berbicara dalam bahasa lain, Inggris
misalnya, jika penguasaan bahasa Inggrisnya lemah.
Berbeda dengan penggunaan bahasa lisan, penggunaan bahasa
tulis untuk kepentingan apa pun, termasuk untuk kepentingan karya tulis
ilmiah masih mengenal sanksi karena membawa implikasi tertentu. Hal
inilah yang menjadi pembenar argumentasi bahwa perbedaan antara bahasa
tulis dan bahasa lisan bagaikan bumi dan langit. Karena itulah sangat penting
mengenali ciri-ciri bahasa tulis maupun ciri-ciri bahasa ragam ilmu.
Basuki, dkk. (1995), ciri-ciri yang paling menonjol dalam bahasa tulis
adalah:
1. Kosa kata yang digunakan dipilih secara cermat
2. Pembentukan kata dilakukan secara sempuma
3. Kalimat dibentuk dengan struktur yang lengkap
4. Paragraf dikembangkan secara koheren (padu) dan kohesif (lengkap)
5. Hubungan antargagasan terlihat jelas, rapi dan sistematis.
Sedangkan ciri-ciri menonjol dalam bahasa ragam ilmu ialah: cendekia,
lugas, jelas, formal/teknis, objektif, konsisten, dan bertolak dari gagasan.
Kecendekiaan umpamanya, tampak jika bahasa ragam ilmu
digunakan secara tepat untuk mengungkapkan hasil berpikir logis.
Bahasa yang cendekia mampu membentuk pemyataan yang tepat dan
seksama sehingga gagasan yang disampaikan penulis dapat diterima atau
Peran Bahasa Indonesia dalam Karya Ilmiah | 21
dipahami secara tepat. Kecendekiaan bahasa tercermin dalam kejelasan
hubungan kausalitas pada pilihan kalimat yang mewadahinya, pada ketepatan
dan keseksamaan penggunaan kata, kecermatan memilih kata, kecermatan
menggunakan kata-kata yang bersifat idiomatis, dan sebagainya. Sedangkan
kelugasan dan kejelasan bahasa akan tercermin dari tidak dimungkinkannya
tafsir lain atas kata-kata yang dipilih (tidak ambivalen).
Keformalan dan keteknisan bahasa tampak dari pemilihan kata-kata
baku, bukan kata-kata populer, bukan kata-kata yang sering digunakan dalam
bahasa lisan, dan bukan kata-kata yang sering digunakan dalam bahasa prokem.
Objektivitas bahasa tampak dari pemilihan kata dan kalimat yang tidak
memasukkan unsur-unsur perasaan atau emosi penulis. Konsistensi bahasa
tampak dari pemilihan kata dan kalimat yang tidak berubah-ubah sehingga
hanya memiliki makna dalam semesta pembicaraan yangs sedang digagas.
Sedangkan bertolak dari gagasan tampak dari upaya penulis untuk tidak
mengambil kesimpulan sendiri dengan kata-kata atau kalimat lain, melainkan
bertolak dari apa yang sudah dikutip maupun ditulis.
Selain mengenali ciri-ciri spesifik bahasa ragam ilmu, penulis karya
ilmiah perlu menggunakan ejaan dan tanda baca yang benar, menggunakan
paragraf yang benar, dan menghindari kesalahan umum pemakaian bahasa
seperti kesalahan penalaran, kerancuan, pemborosan, ketidaklengkapan kalimat,
kesalahan kalimat pasif, kesalahan ejaan dan kesalahan pengembangan paragraf.
2.10 Dilema Penggunaan Bahasa Ragam Ilmu
Salah satu sifat bahasa ragam ilmu adalah bertaat asas kepada kaidah
bahasa yang ada, antara lain menyangkut penggunaan kosakata yang sudah
dibakukan (formal/teknis). Namun makna baku dalam beberapa penjelasan,
baik yang tertulis melalui risalah ahli bahasa, maupun yang dijumpai dalam
siaran televisi oleh ahli bahasa selalu menonjolkan aspek tipografis untuk
membedakan antara yang baku dan nonbaku. Padahal diketahui, daya ingat
seseorang amatlah terbatas sementara perkembangan istilah bahasa Indonesia
sangat pesat sehingga menyulitkan siapa pun untuk selalu mengingat yang
baku dan nonbaku. Jalan keluar yang praktis guna mengatasi hal tersebut
Peran Bahasa Indonesia dalam Karya Ilmiah | 22
sampai saat ini masih dilematis. Dilema antara pemilihan kata-kata baku dan
komunikatif, penghematan kata dan keterbacaan, serta penggunaan kalimat pasif
dan aktif dalam tulisan ilmiah.
Peran Bahasa Indonesia dalam Karya Ilmiah | 23
BAB 3
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Bahasa Indonesia dikenal sebagi bahasa aglutinatif. Artinya,
kosakata dalam bahasa Indonesia dapat ditempeli dengan bentuk lain, yaitu
imbuhan. Imbuhan mengubah bentuk dan makna bentuk dasar yang dilekati
imbuhan itu. Karena sifat itulah, imbuhan memiliki peran yang sangat penting
dalam pembentukan kata bahasa Indonesia. Dengan demikian, sudah
selayaknyalah, sebagai pemakainya kita memiliki pengetahuan mengenai ini.
Kemampuan berbahasa yang baik dan benar merupakan persyaratan mutlak
untuk melakukan kegiatan ilmiah karena bahasa merupakan sarana komunikasi
ilmiah pokok. Tanpa penguasaan tata bahasa dan kosakata yang baik akan sulit
bagi seorang ilmuan untuk mengkomunikasikan gagasannya kepada pihak lain.
Dengan bahasa selaku alat komunikasi, kita bukan saja menyampaikan informasi
tetapi juga argumentasi, dimana kejelasan kosakata dan logika tata bahasa
merupakan persyaratan utama yaitu Bahasa Indonesia Ragam Baku.
Kemampuan menulis karya ilmiah di samping memerlukan
bekal keilmuan yang cukup juga memerlukan bekal kemampuan kebahasaan
yang memadai. Mengingat adanya prinsip-prinsip atau kaidah-kaidah tersendiri
tentang ragam bahasa ilmiah maka hendaknya prinsip-prinsip tersebut
betul-betul dipahami dan dipraktikkan. Hal ini karena faktor kebahasaan ini
mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam mengantarkan gagasan kepada
pembaca secara baik. Secara sederhana prinsip yang berkaitan dengan
kebahasaan dalam penulisan karya ilmiah adalah prinsip pemilihan kata,
istilah, pembentukan kalimat serta paragraf yang baik. Sekilas memang prinsip-
prinsip tersebut tampak tidak rumit. Akan tetapi, ketika sudah sampai pada
praktiknya tentunya kepekaan bahasa (sense of language) dan kecermatan, serta
keterampilan seorang penulis dalam mengolah bahasa sangat diperlukan.
Peran Bahasa Indonesia dalam Karya Ilmiah | 24
Jadi, peranan dan fungsi bahasa Indonesia dalam konteks ilmiah sangatlah
penting. Karena hasil baik dari penulisan ilmiah tidak lepas dari segi penggunaan
bahasa Indonesia yang baik dan benar, melalui pendalaman materi dan
pembahasan kajian perpustakaan untuk menambah khazanah ilmu pengetahuan
bahasa, yaitu Bahasa Indonesia.
Berdasarkan uraian di atas dapat diambil suatu kesimpulan bahwa dalam
hal bahasa, karya tulis semacam itu (termasuk laporan penelitian) harus
memenuhi ragam bahasa standar (formal) atau bukan bahasa informal atau
pergaulan. Ragam bahasa karya tulis ilmiah atau akademik hendaknya mengikuti
ragam bahasa yang penuturnya adalah terpelajar dalam bidang ilmu tertentu.
Ragam bahasa ini mengikuti kaidah bahasa baku untuk menghindari ketaksaan
atau ambigiutas makna karena karya tulis ilmiah tidak terikat oleh waktu. Dengan
demikian, ragam bahasa karya ilmiah sedapat-dapatnya tidak mengandung
bahasa yang sifatnya kontekstual seperti ragam bahasa jurnalistik. Tujuannya
agar karya tersebut dapat tetap dipahami oleh pembaca yang tidak berada dalam
situasi atau konteks saat karya tersebut diterbitkan. Masalah ilmiah biasanya
menyangkut hal yang sifatnya abstrak atau konseptual yang sulit dicari alat
peraga atau analoginya dengan keadaan nyata.
Untuk mengungkapkan hal semacam itu, diperlukan struktur bahasa
keilmuan adalah kemampuannya untuk membedakan gagasan atau pengertian
yang memang berbeda dan strukturnya yang baku dan cermat. Dengan
karakteristik ini, suatu gagasan dapat terungkap dengan cermat tanpa
kesalahan makna bagi penerimanya. Penulisan ilmiah merupakan sebuah
karangan yang bersifat fakta atau real yang ditulis dengan menggunakan
penulisan yang baik dan benar serta ditulis menurut metode yang ada. Secara
garis besarnya setiap karya ilmiah meliputi dua unsur. Unsur yang dimaksud
adalah unsur isi dan unsur bahasa. Dalam hal unsur isi, setiap karya ilmiah tentu
berbeda- beda bergantung pada bidang ilmu yang diteliti, atau topik yang
dibahas. Akan tetapi, dalam hal unsur bahasa, setiap karya ilmiah ditulis ragam
bahasa yang sama, yaitu bahasa Indonesia ragam baku.
Peran Bahasa Indonesia dalam Karya Ilmiah | 25
3.2 Saran
Setelah mengetahui peran bahasa Indonesia dalam karya ilmiah pada
pembahasan di atas maka kita harus megimplementasikannya dalam kehidupan
sehari-hari terutama di lingkungan yang berbeda kita harus pandai menyesuaikan
diri, agar kita dapat dipandang baik oleh orang lain, disamping itu apabila kita
ingin menulis sebuah karya ilmiah maka harus memperhatikan setiap susunan
katanya sesuai dengan kaidah kebahasaan yang tepat. Sehingga karya ilmiah yang
kita buat mudah dipahami oleh semua orang.
Peran Bahasa Indonesia dalam Karya Ilmiah | 26
DAFTAR PUSTAKA
Alwi, Hasan, dkk. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta:
Balai Pustaka
Arifin, E. Zainal. 1998. Dasar-Dasar penulisan Karangan Ilmiah. Jakarta:
Grasindo.
Hasana, H. (2022). Fungsi dan Peran Bahasa Indonesia dalam Penulisan
Ilmiah. Jurnal Literasiologi, 8(4).
Nurhidayah, S. P. Bahasa Indonesia dalam Karya Ilmiah.
Prayitno, Harun Joko, dkk (Ed). 2000. Pembudayaan Penulisan Karya
Ilmiah. Surakarta: Muhammadiyah University Press.
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdiknas RI. 2004.
Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan &
Pedoman Umum Pembentukan Istilah. Bandung: CV. Yrama Widya.
Wibowo, Wahyu. 2005. Enam Langkah Jitu Agar Tulisan Anda Makin Hidup
dan Enak Dibaca. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Widjono Hs. 2005. Bahasa Indonesia: Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian
di Perguruan Tinggi. Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia.
Peran Bahasa Indonesia dalam Karya Ilmiah | 27